Gedung BPBD Dianggap Kantor Pos


GEDUNG Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Bandung di kompleks Pemkab Bandung, sering dianggap masyarakat sebagai kantor pos. Hal ini dikarenakan gedung bekas Kantor Badan Arsip Perpustakaan dan Pengembangan Sistem Informasi (Bapapsi) Kab. Bandung tersebut didominasi warna oranye layaknya kantor pos. Apalagi tidak ada papan nama BPBD Kab. Bandung di sana, yang ada malah stiker BPBD Jabar.
"Karena gedung dicat warna oranye, tidak sedikit warga datang ke gedung BPBD untuk membeli prangko atau meterai," kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kab. Bandung, Cecep Hendrawan, sambil tersenyum.
Ditemui di kantornya, Kamis (30/12), Hendrawan mengatakan, kondisi gedung BPBD masih dalam taraf penataan, baik mebel maupun peralatan kantor lainnya. "Komputer sebagai sarana kerja hanya ada tiga unit ditambah satu laptop. Tahun 2011 rencananya ada pengadaan tambahan komputer untuk BPBD," ucapnya.
Meskipun begitu, BPBD Kab. Bandung sebagai lembaga baru dibandingkan dengan satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) lainnya, sudah menorehkan prestasi. BPBD Kab. Bandung sejak sebulan lalu telah meluncurkan laman (situs) tersendiri yakni www.bpbd-kabbandung.blogspot.com. Para pengunjung situs BPBD Kab. Bandung bukan hanya dari Kab. Bandung melainkan dari kabupaten/kota lain di Jawa Barat bahkan Jawa Timur dan DKI Jakarta.
"BPBD Kab. Bandung juga memiliki alat komunikasi radio yang canggih seharga Rp 14 juta, sehingga bisa berkomunikasi dengan jangkauan luas sampai ke luar negeri," ucapnya didampingi Sekretaris BPBD Kab. Bandung, Agus Maulana.
Menurut Agus, meskipun baru berusia sebulan, tetapi BPBD Kab. Bandung sudah dihadapkan pada bencana banjir yang melanda tujuh kecamatan belum lama ini. "BPBD memiliki kewenangan melakukan perencanaan, koordinasi, sampai operasional penanggulangan bencana. Kami bisa berkoordinasi dengan instansi-instansi lain, termasuk menggerakkan para Sukarelawan," ucapnya.
Ruangan Ketua Pelaksana BPBD Kab. Bandung, H. Juhana Atmawisastra, terlihat sederhana, hanya berisikan dua meja kerja dan dua kursi lipat serta satu kulkas. Tidak ada pendingin ruangan (AC) maupun karpet sebagai alas ruangan.
Demikian pula dengan ruangan Agus Maulana dan tiga kepala bidang, hanya diisi sepasang meja dan kursi pinjaman dari perpustakaan Kab. Bandung. Sementara ruangan kerja staf masih dalam taraf pengerjaan, karena staf administrasi juga belum ada.
"BPBD Kab. Bandung memiliki enam kepala seksi dan tiga kepala subbagian, sehingga membutuhkan sekitar dua puluh orang staf administrasi. Kami sudah mengusulkan agar BPBD segera mendapatkan bantuan staf mutasi dari SKPD-SKPD lain," katanya menjelaskan.
Bukan hanya ruangan kerja, gudang penyimpanan bantuan, tenda, mesin pompa, maupun perahu karet juga hanya berupa ruangan berukuran sekitar 7 x 7 meter. "Kami belum memiliki gudang penyimpanan logistik, sehingga memanfaatkan ruangan kosong yang ada," ujarnya. (Sarnapi/"PR")***
Share:

Banjir di Leuwi Bandung Dayeuhkolot Semakin Memprihatinkan

Dayeuhkolot,

Banjir yang melanda Kabupaten Bandung kemarin semakin memperihatinkan. Selain di wilayah Kampung Cieunteng dan Andir Kecamatan Baleendah, banjir juga melanda wilayah Kecamatan Dayeuhkolot. Kampung Leuwi Bandung terbilang sebagai kampung yang paling parah karena air mencapai ketinggian 2 meter lebih. Sejumlah warga sudah tidak bisa lagi menempati rumahnya karena kondisinya sangat tidak memungkinkan
mereka untuk ditinggali.

Ketua RT setempat Ihin Sodikin mengatakan sejak beberapa hari bterakhir warganbya tidak bisa beraktifitas ke luan karena banjir mengahadang kampung yang dihuni paling padat penduduk itu. Padahal kata Ihin, warganya yang memiliki anak usia SD dan SMP sedang melaksanakan mid semester. Karena kondisinya yang membuat mereka harus ijin meninggalkan sekolah. "kondisi ini terbilang paling parah
ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Saya juga kaget mengapa banjir kali ini paling parah,"ujar Ihin heran.
Warsih salah seorang warga yang memiliki dua anaknya yang masih duduk di bangku SD dan SMP mengaku meliburkan anak-anaknya sekolah karena khawatir dengan keselamatan anaknya itu. Dia mengatakan lebih memilih libur ketimbang memaksakan harus sekolah dalam kondisi banjir. "Saya sudah dua hari ini gak bisa keluar kampung karena banjir yang mendera wilayah ini. Padahal anak saya lagi ujian di
sekolahnya. tapi mau bagaimana lagi, terpaksa saya suruh libur saja,"akunya.

Kasie Trantibum Kecamatan Dayeuhkolot Fathudin mengatakan sejumlah penguingsi kini menempati aula kntor kecamatan Dayeuhkolot. Namun demikian para pengusngsi itu kini hanya tinggal beberapa kepala keluaraga yang masih bertahan karena rumahnya sudah mulai surut dari banjir. “Kami melihat pengungsi sudah mulai pulnag ke rumah karena banjir mulai surut,” katanya.

Ketua Forum Peduli Kabupaten Bandung Hidayat Bastaman mengatakan sampai hari kemarin tidak ada kepedulian yang dilakukan aparat pemrintah setempat. terlabih Camat Dayeuhkolot hanya mampu melaporkan kepada pihak pemkab Bandung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). 

Badan ini masih baru namun sudah dituntut untuk berbuat yang terbaik bagi warga Kabupaten Bandung yang terkena bencana. "kami saat ini mendesak aparat setempat untuk segera memberikan bantuan kepada penghuni di RW 2,3, 4,5 dan14 Kampung para korban bencana banjir di Leuwi Bandung,”katanya.

Bastaman menambahkan selain Cieunteung, Leuwi Bandung dan daerah lainnya yang terkena bencana alam sebaiknya tidak hanya diinventaris oleh BPBD. hal ini bisa dilakukan dengan cara yang lain yang lebih menyentuh masyarakat korban. "Pendirian dapur umum saja tidak cukup, jadi sebaiknya badan yang baru ini
terjun ke lapangan bersama-sama dengan LSM atau ormas lainnya yang peduli terhadap para korban. Kami sangat menunggu kepedulian yang selama ini belum dapat dirasakan korban banjir di Leuwi Bandung,"pinta Bastaman.

Camat Numan Mumin mengatakan bantuan sudah diajukan melalui dinas terkait. Namun demikian dia meminta agar masayarakat korban banjir bersabar karena bantuan itu diyakini akan segera datang. "Soal bantuan saya kira tunggu saja karena kami sudah mengajukannnya,"kata Numan singkat. (GUN)
Share:

BPBD Tunggu Kajian SDAPE

Wakil Bupati Bandung Kunjungi Tanah Bergeser

SOREANG,

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung menyatakan masih menunggu hasil penelitian Dinas Sumber Daya dan Pengairan (SDP) terkait kondisi rekahan dan gerakan tanah di Kampung Singaluyu Desa Wargaluyu dan Kampung Sukatinggal Desa Pinggirsari Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung.

Hal itu diungkapkan Kabid Kedaruratan Logistik BPBD Kabupaten Bandung, Cecep Hendrawan di Perkantoran Pemkab Bandung,kemarin. Dia mneytakan kajian itu perlu dilakukan instansi terkait mengingat bencana yang terjadi di Arjasari ini akan terus berlangsung seiring dengan hujan yang mengguyur wi8layah Bandung Selatan. "Kami masih menunggu hasil penelitian
Dinas SDAPE. Kalau kajian terbukti bahwa lahan tanah di desa itu posisinya rawan ya mereka harus segera direlokasi secepatnya," ujar.

Dikatakan, penanggulangan bencana daerah di Kabupaten Bandung diharapkan menjadi mudah dan terkoordinasi setelah ditangani BPBD yang baru terbentuk sekitar sebulan. Namun demikian piuhknya mengaku kesulitan anggaran untuk melakukan penanganan bencana tersebut. Karena bencana yang terjadi di Kabupaten bandung itu bukan hanya rekahan dan geseran tanah yang ada di Arjasari saja melainkan juga terjadi di wilayah Dayeuhkolot dan baleendah dengan banjirnya dan di Kutawaringin dengan longsornya. “Untuk melaksanakan penanganan ini kan butuh anggaran, karenanya kami sangat menunggu dana operasional untuk menanganan bencana yang terjadi itu,”paparnya.

Sementara itu Camat Arjasari Eef Syarif menyatakan bencana pergeseran tanah di wilayahnya itu harus diteliti oleh badan Meteorologi, Geofisika dan Vulkanologi(MGV). Badan ini yang lebih kompeten dalam hal penelitian tanah yang bergerak di dua desa tersebut. Namun demikian pihaknya telah menunjukkan kepada wakiul, Bupati Bandung terkait dengan bergesernya tanah di kampung Sukatinggal Desa Pinggirsari. Meski pun wilayah itu dianggap tidak terlalu rawan karena jauh dari hunian warga, tetap harus dikaji. “Pak wakil bupati kemarin dating ke lokasi di Sukatinggal ini, beliau meminta daerah yang terkena bencana ini tetap harus diawasi. Meski pun jauh dari hunian warga namun bahayanya tetap akan terjadi ke wilayah lainnya,”kata Eef mengutip perkataan Deden Rumaji, wakil Bupati Bandung.

Dia berharap selain pengawasan yang harus senantiasa dilakukan camat selaku pemilik wilayah juga dilakukan dinas terkait. Apalagi SDAPE sudah siap untuk melakukan kajian lebih jauh terhadap tanh yang bergeser tersebut. (GUN)
Share:

Korban 34 Rumah Bergeser, Minta Perhatian Pemkab Bandung

Arjasari,

Para penghuni rumah yang tanahnya bergeser beberapa waktu lalu, kemarin mengaku ingin memperbaiki rumahnya masing-masing. Karenanya mereka berharap pemerintah setempat segera memperhatikan kondisi yang mereka alami. Terlebih dengan telah dibentuknya Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Kabupaten Bandung.

Seperti diungkapkan Ny. Sahla (45) salah seorang warga Kampung Singaluyu RT 4 RW 09 Desa Wargaluyu Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung saat dijumpai Bandung Ekspres. Dia mengatakan rumahnya itu terpaksa dihuni kembali karena tidak lagi punya rum,ah yang layak untuk dihuni keluarganya itu. Sambil menunjukkan sejumlah lokasi di dalam rumahnya itu, Ny. Sahla meminta kepada pihak berwenang dalam hal ini Pemkab Bandung untuk memperhatikan nasib yang dialaminya itu. “Kami terpaksa menghuni kembali rumah ini karena mau bagaimana lagi, tinggal di tempat yang lain saya tidak memiliki rumah tinggal lagi,”ujar Ny Sahla seraya menunjukkan bagian rumahnya yang retak-retak itu.

Dia mengaku dari sejumlah warga yang ada di kampong itu khawatir terjadi lagi retakan susulan apalagi musim hujan yang terus-terusan mengguyur wilayah kampungnya itu. Bahkan ada lima warga lainnya yang terbilang parah retakannya kemarin sudah tidak lagi dihuni pemiliknya.

Menurut Kaur Trantib Desa Wargaluyu Sukanda Setiawan, sebanyak enam Kepala keluarga yang kini tidak lagi kambali ke rumahnya adalah Dodo, Sahla, Deni, Eutik, Titis dan Yana. Dia mengatakan dari keenam KK itu ada juga yang kini mulai menempati rumahnya dengan alas an tidak memiliki rumah tinggal sebagai penggantinya. Bahkan lanjutnya, pihak desa yang te;lah melaporkan sejak kejadian tanggal 18 Desember lalu, meminta bantuan kepada dinas sosial untuk mendirikan tenda sebagai tempat penampungan darurat. “kami juga mambanguna tenda sebagai tempat penampungan sementara di kampung Singaluyu. Demikian juga dengan sejumlah bantuan makanan yang diberikan sebagai bantuan alakadarnya telah dilakukan untuk upaya penanganan darurat,”kata Sukanda.

Sejumlah fasilitas umum lainnya yang terkana imbas dari pergeseran tanah adalah jalan desa. Jalan Singaluyu itu terlihat bergeser dengan ketinggian antara 40-50 CM. Beruntung warga sudah menimbunnya dengan pasir yang diambil secara gotong-royong sabilulungan di kampung itu. “Kami telah melakukan kerja bakti bergotong royong sabilulungan satu sama lainnya untuk menimbun jalan desa yang bergeser itu. Dengan menggunakan pasir dan tanah sebanyak 3 truk colt disel dan sebagian lagi dicor menggunakan semen agar jalan tetap padat. Namun sebagina lagi masih ada juga yang terlihat berserakan karena belum ada lagi bantuan yang bisa menutupi ongkos kerja jalan yang amblas itu,”tuturnya.

Dia mengaku kerugian yang menimpa rumah sebanyak 34 buah, enam diantaranya termasuk dalam kondisi parah itu ditaksir antara Rp 100 juta lebih. Kerusakan yang terjadi pada tahun ini termasuk kerusakan yang paling parah. “Sehingga nilai materi yang dialami warga pemilik rumah itu bias saja mencapai Ro 100 juta. Itupun bila dilihat secara kasarnya saja tidak secara matematis atau berdasarkan hitungan realnya,”tegasnya.

Dia memaparkan, kejadian serupa di kapng itu pernah ada pada tahun 1965. Dia waktu itu masih duduk di bangku SD (Sekolah Dasar). “Kalau dilihat dari sejarahnya yang pernah terjadi di Kampung ini, (Singaluyu,Red) pernah terjadi. Waktu itu rumah di kampong ini tidakl banyak seperti sekarang ini. Kejadian pergeseran tanah saat itu tidak separah yang dialami tahun ini. Makanya saya meprediksi kerugian itu diperkirakan demikian,”kenangnya.

Sebe;lumnya, Camat Arjasari Eef Syarif Hidayat kepada wartawan menegaskan, sejak tanggal 8 Desember lalu kondisi tanah di kampung Singaluyu labil dan kerap terjadi pergeseran tanah. Akibatnya, sejumlah rumah yang dihuni oleh 34 KK itu kini was-was dan satu persatu dievakuasi ke daerah yang aman. Dia mengatakan, kondisi yang lebih parah terjadi di Kampung Singaluyu, dimana jalan kampunjg itu jadi lokasinya turun ke bawah antara 40 - 50 CM ke bawah. Apalagi tanah yang dekat tebing itu terdapat penurunan ketinggian tanah mencapai 50-70 CM.

Dia mengaku meski tidak ada korban jiwa, dari jumlah sebanyak 34 rumah itu 6 diantaranya kini sudah dievakuasi penghuninya. Dia memberitahukan kepada warga melalui kepala desa setempat agar senantiasa berkoordinasi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. “Kami sudah melayangkan surat secara resmi kepada para pemilik rumah yang berada di lokasi tanah yang bergeser itu jumlahnya mencapai 34 kepala keluarga. Namun untuk rumah yang berjumlah 6 buah atau yang didiami 6 KK terpaksa harus dievakuasi ke daerah yang aman dan hingga kini tidak lagi dihuni oleh pemiliknya,”kata Eef.

Dikatakannya, dua lokasi yang rawan akan retakan tanah di kecamatan Arjasari itu masing-masing di Kampung Singaluyu Desa Wargaluyu dan satu lagi di kampung Sukatinggal RT 3/5 Desa Pinggirsari. Untuk di Kampung Sukatinggal, dinyatakan tidak terlalu khawatir karena di kampung itu lokasi retakannya tidak berada di daerah yang banyak penghuninya. Bahkan di Kampung itu areal retakan jauh dari pemukiman masyarakat. Meski demikian pihaknya tetap melakukan pengawasan, siapa tahu ke depan lokasi itu retakannya terjadi lebih parah dan harus ditangani serius seperti yang terjadi di Kampung Singaluyu. (sal)
Share:

Camat Segera Evakuasi Penghuni Rumah : 28 Rumah Bergeser, 6 rumah Amblas

Arjasari,

Sebanyak 34 rumah di Kampung Singaluyu RT 4 dan 5 RW 09 Desa Wargaluyu Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung kemarin dinyatakan berbahaya untuk ditinggali penghuninya. Hal itu terjadi setelah beberapa hari paska kejadian kondisinya semakin hari semakin parah. Melihat kondisi tersebut aparat pemerintah kecamatan Arjasari langsung memberikan penanganan serius dengan mengevakuasi para pemilik rumah yang lokasinya berada di lokasi retakan itu.

Camat Arjasari Eef Syarif Hidayat kepada Bandung Ekspres di ruang kerjanya menegaskan sejak tanggal 8 Desember lalu kondisi tanah di kampong Singaluyu labil dan kerap terjadi pergeseran tanah. Akibatnya, sejumlah rumah yang dihuni oleh 34 KK itu kini was-was dan satu persatu dievakuasi ke daerah yang aman. Dia mengatakan, kondisi yang lebih parah terjadi di Kampung Singaluyu, dimana jalan kampunjg itu jadi lokasinya turun ke bawah antara 40 - 50 CM ke bawah. Apalagi tanah yang dekat tebing itu terdapat penurunan ketinggian tanah mencapai 50-70 CM.

Dia mengaku meski tidak ada korban jiwa, dari jumlah sebanyak 34 rumah itu 6 diantaranya kini sudah dievakuasi penghuninya. Dia memberitahukan kepada warga melalui kepala desa setempat agar senantiasa berkoordinasi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. “Kami sudah melayangkan surat secara resmi kepada para pemilik rumah yang berada di lokasi tanah yang bergeser itu jumlahnya mencapai 34 kepala keluarga. Namun untuk rumah yang berjumlah 6 buah atau yang didiami 6 KK terpaksa harus dievakuasi ke daerah yang aman dan hingga kini tidak lagi dihuni oleh pemiliknya,”kata Eef.

Dikatakannya, dua lokasi yang rawan akan retakan tanah di kecamatan Arjasari itu masing-masing di Kampung Singaluyu Desa Wargaluyu dan satu lagi di kampung Sukatinggal RT 3/5 Desa Pinggirsari. Untuk di Kampung Sukatinggal, dinyatakan tidak terlalu khawatir karena di kampung itu lokasi retakannya tidak berada di daerah yang banyak penghuninya. Bahkan di Kampung itu areal retakan jauh dari pemukiman masyarakat. Meski demikian pihaknya tetap melakukan pengawasan, siapa tahu ke depan lokasi itu retakannya terjadi lebih parah dan harus ditangani serius seperti yang terjadi di Kampung Singaluyu.

“Kami selalu mengawasi daerah yang rawan itu terlabih untuk para korban di kampung Singaluyu itu kami telah melaporkannya kepada badan yang baru saja dibentuk yakni Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD). Ini sebagai dasar laporan kami kepada pemerintah Kabupaten Bandung agar penanganan masalah bencanja tanah dengan retakan yang sulit dipresdiksi itu bisa tertangani lebih dini,”paparnya.

Wawan (50) salah seorang pemilik rumah terkena retakan mengatakan, rumahnya kini terkena retakan yang besar dari hari sebelumnya. Hal itu terjadi dari sejumlah getaran yang sempat terjadi di bebebarapa daerah yang iimbasnya ke wilayah Kabupaten Bandung. Awalnya dia kaget dengan kondisi tanah yang setiap hari nyaris mengalami pergeseran. Bahkan suatau saat sempat merasakan pergeseran hebat yang berdampak pada salah satu ruangan rumahnya retak yangris membelah dinding rumahnya itu. “Saya sendiri merasakan ada perseseran itu pada siang hari tepatnya tanggal 8 Desember lalu. Lalu saya melihat salah satu bagian rumah yang nyaris sama dengan belahan tanah lapang kering yang membentang. Lalu saya menanayakan hal itu kepada beberapa warga yang juga tetangga. Ternmyata rumah yang dihuni tetangga saya pun mengalami hal yang sama rumahnya retak-retak,”papar Wawan.

Dikatakannya selain rumah, sejumlah jalan di Kampung Singaluyu juga ada yang mengalalami retakan sehingga tanah jalan itu jadi turun ke bawah sampai 40 CM ke bawah. Apalagi tanah yang dekat tebing itu terdapat penurunan ketinggian tanah mencapai 50 CM. “Jalan Singaluyu juga mengalami penurunan ketinggian. Ini bias dilihat dari ketinggian jalan deklat perkampungan rumah penduduk dengan rumah yang mau masuk menuju jalan desa Wargaluyu. Perbedaan sangat terlihat dari ketinggiannya itulah,”tanya Wawan kaget. (gun)
Share:

BPBD Tunggu Kajian SDAPE Soal Amblesan Tanah di Arjasari

SOREANG, (PRLM).- Untuk mengambil tindakan menyusul terjadinya amblesan tanah di Kampung Sukatinggal, Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih menunggu kajian tim ahli Dinas Sumber Daya Air, Pertambangan, dan Energi (SDAPE). Jika amblesan berpotensi menimbulkan longsor dan mengancam penduduk, bukan tidak mungkin akan dilakukan relokasi warga.
“Belum ada rekomendasi tindakan yang bisa kami berikan. Masih kami koordinasikan dengan tim ahli SDAPE. Mereka yang punya kapasitas meneliti. Kita harapkan hasilnya dapat diperoleh segera. Setelah nanti ada hasil penelitian, baru kita bertindak,” ujar Kepala BPBD Juhana Atmawisastra, Selasa (21/12).
Menurut Juhana, BPBD sendiri telah mengirimkan tim untuk melihat langsung lokasi. Dari pantauan tersebut, diketahui telah terjadi amblesan tanah sedalam sekitar satu meter dengan lubang retakan sedalam 30 centimeter. Belum diketahui apakah amblesan berbentuk tapal kuda tersebut berpotensi menimbulkan bencana longsor.
Juhana mengungkapkan, jika berdasarkan penelitian tim SDAPE dipastikan amblesan tanah bisa memicu longsor, BPBD akan mengkaji potensi kerusakan yang akan ditimbulkan. “Jika keselamatan warga di bawah bukit itu terancam, tanpa ragu-ragu kami akan merekomendasikan adanya relokasi. Jangan sampai ada korban akibat keterlambatan penanganan,” ujarnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, tanah di lereng bukit di Kampung Sukatinggal ambles sedalam satu meter membentuk tapal kuda dengan lebar sekitar 60 meter, sejak Jumat (17/12) lalu. Belum ada perhatian khusus dari pemerintah terhadap kejadian ini. Hanya berjarak 500 meter dari lokasi amblesan, terdapat permukiman padat yang berpotensi terancam menjadi korban jika terjadi longsor akibat guyuran hujan deras. (A-165/das)***
Share:

Tanah di Arjasari Ambles, Mengancam Pemukiman Padat

SOREANG, (PRLM).- Tanah di lereng bukit di Kampung Sukatinggal, Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari ambles sedalam satu meter membentuk tapal kuda dengan lebar sekitar 60 meter, sejak Jumat (17/12) lalu. Belum ada perhatian khusus dari pemerintah terhadap kejadian ini. Padahal, hanya berjarak 500 meter dari lokasi amblesan, terdapat permukiman padat yang terancam menjadi korban jika terjadi longsor akibat guyuran hujan deras.

Amblesan tanah terjadi di lahan peternakan ayam potong milik Didik Iskandar (50), warga Desa Patrolsari, dan melebar ke jalan di samping peternakan yang menghubungkan Kecamatan Arjasari dengan Kecamatan Baleendah. Amblesan membuat dua lokal kandang ayam milik Didik rusak dan harus dibangun ulang.

Didik menuturkan, tanah ambles karena hujan deras yang turun selama berjam-jam sepanjang Jumat malam. “Sebelumnya, tanah juga sudah ambles. Tapi cuma beberapa centimeter saja. Kali ini, amblesannya sangat dalam. Sepertinya air hujan masuk ke dalam celah-celah tanah dan membuat amblesan makin dalam,” katanya, Senin (20/12).

Nandang Suhana (44), warga Kampung Sukatinggal, menuturkan, pada saat hujan deras, air dari atas bukit mengalir deras menggenangi kandang ayam milik Didik. Bukit yang ada di atas kompleks kandang tersebut sudah gundul dan penuh dengan tanaman sayuran. “Airnya menggenang sampai berhari-hari karena ada amblesan itu,” tuturnya.

Menurut Didik, kejadian ini telah ia laporkan kepada petugas desa setempat. Namun, belum ada pejabat atau petugas lapangan yang mendatangi lokasi untuk memastikan berbahaya atau tidaknya amblesan tanah tersebut bagi keselamatan warga di bawahnya.

Dari pantauan “PRLM” di lapangan, amblesan tanah berbentuk tapal kuda dengan diameter tak kurang dari 60 meter. Arah amblesan menuju selatan. Di arah yang sama, sekitar setengah kilometer, terdapat puluhan rumah warga Kampung Sukatinggal di lokasi yang lebih rendah. Sedikit lebih jauh, sekitar 1 kilometer, terdapat Kampung Cilameta.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Bandung, Juhana Atmawisastra mengungkapkan, telah dikirim tim untuk menyelidiki amblesan tanah di Sukatinggal, Jumat sore. “Kami sudah mengirim tim untuk memastikan tindakan apa yang harus dibuat nantinya. Kita lihat apakah amblesan memang sangat membahayakan keselamatan warga atau tidak,” ujarnya. (A-165/das)***

Sumber : Pikiran Rakyat Online
Share:

47 Hektare Sawah Puso Akibat Banjir

SOREANG, (PR).-
Banjir yang terjadi di sejumlah daerah di tujuh kecamatan Kab. Bandung baru-baru ini telah merendam 1.275 hektare sawah, 47 hektare di antaranya dinyatakan puso. Sebagian besar yang gagal panen itu adalah tanaman padi muda milik petani di Kec. Rancaekek dan Cikancung.

"Para petani di Kec. Baleendah, Bojongsoang, dan Dayeuhkolot yang merupakan daerah banjir terparah, pada umumnya belum menanami sawahnya, sehingga tidak ada puso di daerah tersebut," kata Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan (Distanhutbun) Kab. Bandung, Ir. H. Tisna Umaran, di ruang kerjanya, Senin (20/12).

Diberitakan sebelumnya, sejumlah daerah di tujuh kecamatan di Kab. Bandung tergenang banjir akibat meluapnya Sungai Citarum dan anak-anak sungainya. Kecamatan yang terkena banjir adalah Baleendah, Dayeuhkolot, Rancaekek, Banjaran, Cikancung, Bojongsoang, dan Cangkuang. Bahkan, sampai saat ini beberapa kawasan di Baleendah seperti Cieunteung Kel. Baleendah masih tergenang banjir setinggi 50 sentimeter.

Menurut Tisna, tanaman padi yang masih berusia tujuh sampai empat belas hari memang belum cukup kuat menahan genangan air. Di Kec. Rancaekek dan Cikancung, terdapat 47 hektare tanaman muda yang puso. "Berdasarkan pendataan yang dilakukan petugas di lapangan, luas areal sawah yang terendam banjir mencapai 1.275 hektare. Lama genangan banjir antara sehari sampai lima hari, sehingga tanaman padi yang masih muda akhirnya mati," ujarnya.

Mengenai bantuan untuk para petani yang tanaman padinya mati akibat banjir, Tisna mengatakan, pemerintah akan memberikan bantuan benih padi bersertifikat. "Setiap hektare akan mendapatkan bantuan benih padi dari pemerintah pusat sebanyak 25 kilogram. Bantuan benih padi sudah tersedia, sehingga tinggal didistribusikan," ucapnya.

Waspadai hama tikus

Tisna juga mewanti-wanti para petani agar bersiaga menghadapi serangan hama tikus. "Biasanya setelah banjir akan diikuti serangan hama tikus yang dampaknya bisa luas sehingga merugikan para petani," ujarnya.

Seorang petani di Desa Ciluncat, Kec. Cangkuang, Paud, mengatakan, para petani sering merugi akibat banjir yang kerap merendam lahan pertanian saat hujan deras turun. "Banjir hanya empat jam, tetapi arus airnya deras, sehingga tanaman seperti padi, sosin, maupun mentimun tersapu banjir," katanya.

Paud dan para petani lainnya berharap pemerintah melakukan normalisasi aliran sungai, tidak sebatas memberikan bantuan benih padi. "Bantuan benih hanya sekali, tetapi banjir terus terjadi tiap hujan besar," katanya. (A-71)***

Share:

DIUSULKAN, ANGGARAN PENGADAAN MOBIL DINAS BUPATI & WABUP BARU

SOREANG, (PR).-
Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kab. Bandung tahun 2011 mengalokasikan Rp 900 juta untuk pengadaan mobil bupati dan wakil bupati yang baru. Ironisnya, dalam RAPBD yang defisit hingga Rp 81 miliar itu, belum mencantumkan anggaran penanggulangan banjir, baik untuk perbaikan infrastruktur maupun dampak sosial ekonomi pascabanjir.

Wakil Ketua Harian Badan Anggaran (Bangar) DPRD Kab. Bandung, H. Yanto Setianto, mengakui adanya usulan pembelian mobil itu. "Anggaran pembelian mobil untuk bupati dan wabup sekitar Rp 900 juta, kemungkinan besar untuk pembelian mobil bupati Rp 500 juta dan sisanya untuk mobil wabup," kata Yanto, Jumat (17/12).

Pengadaan mobil dinas tahun 2011 itu bukan untuk kelas sedan, melainkan mobil lapangan atau jeep sesuai dengan karakteristik medan di Kab. Bandung. "Mobil sedan hanya cocok untuk transportasi di perkotaan. Sementara wilayah Kab. Bandung merupakan daerah perbukitan, apalagi banyak kecamatan rawan banjir dan longsor," katanya.

Mobil dinas bupati yang lama, yaitu sedan Camry, dibeli tahun 2004 lalu. "Mobil sedan itu dipakai Pak Obar Sobarna selama enam tahun sehingga kondisinya sudah kurang bagus. Apalagi bupati dan wabup baru lebih senang mobil lapangan agar bisa meninjau sudut-sudut Kab. Bandung," ucapnya.

Usulan pembelian mobil baru untuk bupati dan wabup periode 2010-2015 juga dibenarkan anggota Bangar DPRD Kab. Bandung, H. Saeful Bahri. "Memang ada usulan pembelian dua mobil baru tersebut, tetapi belum dibahas Bangar. Bisa saja usulan itu ditolak atau dikurangi nilainya untuk menekan defisit RAPBD," katanya.

Bupati Bandung H. Dadang M. Naser ketika ditemui di Masjid Agung Al fathu, Jumat (17/ 12), menyerahkan pembahasan pengadaan mobil baru itu kepada DPRD Kab. Bandung. "Namun, kami lebih senang dengan pembelian mobil lapangan karena sedan kurang cocok dipakai dengan melihat wilayah Kab. Bandung yang berbukit-bukit dan beberapa daerah rawan bencana," katanya.

Anggaran banjir

Sementara itu, anggota Komisi C Gun Gun Gunawan, menyayangkan tidak adanya usulan alokasi dana penanggulangan banjir dalam RAPBD 2011. "Kami merasa prihatin selama ini APBD Kab. Bandung tidak mengalokasikan anggaran banjir, tetapi sebatas penanganan korban banjir," katanya.

Padahal, dana APBD Kab. Bandung bisa mendukung APBN ataupun APBD Jabar dalam penanggulangan banjir, seperti perbaikan drainase dan normalisasi sungai-sungai kecil yang mengalir ke Sungai Citarum atau anak-anak sungainya. "APBD Kab. Bandung juga bisa dipakai membeli pompa air agar banjir cepat surut karena langsung dipompa dan dibuang lagi ke Citarum," katanya. (A-71)***
Share:

JANGAN LUPAKAN SEKTOR PENDIDIKAN & KEMISKINAN


SOREANG, (PR).-
Meski banjir merupakan prioritas yang harus ditangani, warga Kab. Bandung meminta Bupati H. Dadang M. Naser dan Wabup Deden Rukman Rumaji tidak melupakan sektor pendidikan dan upaya pengurangan kemiskinan.

"Saya harap ada perubahan nasib bagi warga miskin seperti saya ini. Bupati baru tolong lebih perhatikan rakyat tak mampu," kata Dede Julaeha (48), warga Cigosol, Kel. Andir, Kec. Baleendah, Kamis (16/12).

Menurut Dede, dengan kondisi rumah yang rusak tergenang banjir, beban hidupnya makin bertambah. "Yang susah ya terus bertambah susah, seperti saya ini. Apalagi, sekarang saya sudah berhenti kerja dari pabrik dan sudah menjanda. Bagaimana masa depan anak saya yang kini masih TK ini nantinya?" ucapnya.

Sementara pengusaha kuliner H. Rudi "Donal" Rustandi (50) berharap bupati dan wabup lebih memperhatikan usaha mikro dan kecil (UMK). "Ketika krisis ekonomi lalu, penyelamatnya adalah UMK karena bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak," katanya di RM Mang Donal Jln. Raya Katapang.

Namun Rudi juga berharap agar perhatian diberikan kepada semua sektor UMK, tidak sebatas kerajinan, olahan pertanian, dan konfeksi. "Pengusaha kuliner sangat banyak dari kelas pedagang keliling, mangkal di pinggir jalan, sampai warung dan restoran. Sampai saat ini, pengusaha kuliner belum dibina dengan baik," katanya.

Sektor pendidikan juga harus lebih diperhatikan karena rata-rata lama sekolah (RLS) di Kab. Bandung baru 8,29 tahun. "Daerah-daerah sekitar Kab. Bandung sudah lama mencanangkan pendidikan dasar da belas tahun sehingga harus dikejar Pemkab Bandung. Ini pekerjaan berat buat bupati dan wabup yang baru," kata Ketua Yayasan Assalaam, K.H. Habib Syarief Muhammad.

Menurut Habib, tugas berat lainnya berkaitan dengan masih banyaknya gedung-gedung sekolah yang rusak akibat termakan usia atau diguncang gempa bumi September tahun lalu. "Dengan APBD yang terbatas, pemerintah dipacu untuk mencari solusi agar penyediaan fasilitas pendidikan yang baik dapat segera tertangani," ucapnya. (A-71)***
Share:

WARGA DESA CITAMAN TANAM POHON TREMBESI

SOREANG, (PR).-
Dua ratus pohon trembesi ditanam warga Desa Citaman, Kec. Nagreg, Minggu (19/12) di sekitar Lapangan Cipanimar. Penanaman pohon tersebut dilakukan untuk menyambut musim hujan dan penghijauan di Desa Citaman.

Sekjen Forum Masyarakat Peduli Nagreg (FMPN) Ato Suprapto mengatakan, penanaman pohon tersebut dilakukan secara rutin satu tahun sekali di Desa Citaman dalam rangkaian ritus nuras. Ato mengatakan, nuras adalah kegiatan yang biasa dilakukan warga Nagreg menyambut musim hujan dengan menanam pepohonan.

"Penanaman pohon trembesi ini dilakukan warga di lima RW yang ada di Desa Citaman, yakni warga RW 9, 10, 11, 12, dan warga RW 13," kata Ato kepada "PR" seusai penanaman pohon, di Desa Citaman, Minggu (19/12).

Menurut dia, ritus nuras dilakukan secara turun-temurun oleh warga Nagreg hingga 1964. Setelah sekian lama terhenti, kegiatan tersebut dihidupkan kembali pada 2009. "Kegiatan yang dilakukan sekarang ini merupakan rangkaian dari acara sebelumnya. Saya berharap lingkungan bersih dan hijau di Nagreg bisa tetap terjaga," tuturnya.

Jadi kebanggaan

Sementara itu, pemerhati budaya dan lingkungan Nagreg, Rudi Hermawan mengatakan, penanaman pohon bertujuan untuk membangun citra positif tentang Kab. Bandung, terutama wilayah Kab. Bandung bagian timur. "Akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami ketika pendatang dari daerah Garut atau Tasikmalaya melihat pemandangan hijau di sekitar Nagreg," katanya.

Menurut dia, ke depannya wilayah Nagreg bisa menjadi daerah konservasi alam di Kab. Bandung. "Oleh karena itu, sekarang di daerah Nagreg tidak ada pabrik seperti di daerah Cicalengka dan Rancaekek," ucapnya.

Rudi menambahkan, dia merasa bangga apabila kondisi lingkungan di sekitar Nagreg terus terjaga keasriannya. "Sebagai pintu gerbang Kab. Bandung di bagian timur, kita harus bisa memberikan kesan yang baik kepada para pendatang," ujarnya.
Share:

MASIH MENGUNGSI



KELUARGA Ai (33) masih mengungsi di gubuk seadanya di tanggul Sungai Citarum di Kampung Bolero, Desa/Kec. Dayeuhkolot, Kab. Bandung, Minggu (19/12). Ai sudah mengungsi selama sepuluh hari di tempat tersebut karena rumah kontrakannya belum selesai dibersihkan. Ai sekeluarga pun belum menerima bantuan.* USEP USMAN NASRULLOH/”PR”
Share:

PEMANFAATAN 2 BUAH RADIO PORTABLE MENJADI SEBUAH PORTABLE REPEATER


oleh : KABID.KEDARURATAN DAN LOGISTIK BPBD KAB.BANDUNG.

Sarana komunikasi elektronik dua arah sampai saat ini merupakan hal yang dibutuhkan dalam mendukung kegiatan operasional organisasi, komunitas maupun personal. Salah satu jenis alat komunikasi dua arah ialah Handy Talky yang mempunyai kapasitas daya paSarana komunikasi elektronik dua arah sampai saat ini merupakan hal yang dibutuhkan dalam mendukung kegiatan operasional organisasi, komunitas maupun personal. Salah satu jenis alat komunikasi dua arah ialah Handy Talky yang mempunyai kapasitas daya pancaran sebesar 5 watt dimana Handy Talky termasuk golongan GMRS (General Mobile Radio Service) dan digunakan untuk perorangan dan dapat menggunakan Repeater untuk menambah jarak jangkau.

Alat komunikasi dua arah jenis Portable Handy Talky type UHF FM dengan daya pancaran berkisar antara 3 watt sampai dengan 5 watt yang mana Portable Handy Talky tersebut mempunyai jarak jangkau yang terbatas diantaranya disebabkan oleh faktor empty area, hambatan bangunan, pohon, gedung dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat di kurangi dengan menggunakan Repeater yang berfungsi untuk memancarkan ulang sinyal dari Portable Handy Talky ke Portable Handy Talky yang lainnya, namun Repeater yang berada di pasaran sekarang ini mempunyai harga yang cukup mahal berkisar antara Rp. 25 juta sampai dengan Rp. 30 juta. Pemanfaatan dua buah Portables Handy Talkies menjadi satu unit Portable Repeater merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan diatas. Disamping menghemat biaya, Portable Repeater dapat digunakan secara mobile di suatu area kegiatan.



Guna memaksimalkan penggunaan Portable Repeater ini juga ditentukan oleh User atau pemegang radio Portable Handy Talky yang berada di lapangan untuk memahami pola rambatan dan hambatan sinyal radio yang dipancarkan ulang oleh Portable Repeater dari Portable Handy Talky ke Portable Handy Talky yang lainnya. Radio Frequensi (RF) jenis Ultra High Frequensi (UHF) mempunyai pola rambatan dan hambatan .

Bahan-bahan pokok yang digunakan dalam pembuatan 1 unit Portable Repeater adalah sebagai berikut :

a. 2 buah Handy Talkies jenis UHF FM Suicom minimal 5 watt sebagai pemancar dan penerimanya.
b. Box Case Amplifier
c. 2 unit antenna UHF.
d. Modul COP (Carrier Operated Relay)
e. ATX Power Supply.
f. Regulator 9 volt




Langkah2 nya ialah :

1. Siapkan Boc case amplifier yang masih bagus dan hapus semua tulisan bawaannya dengan menggunakan cat spray/pilok supaya kelihatan manis.... (kaya kucing aja manis)... he he.
2. Power Supply ATX yang biasa kita gunakan untuk komputer dapat dimanfaatkan sebagai catu daya. Modifikasilah AC in pada ATX sesuai dengan box case amplifier yang akan kita gunakan. Untuk switch ON/Off nya kita ambil kabel warna HIJAU dan salah satu kabel warna HITAM. Perlu diketahui bahwa warna Hitam pada ATX adalah tegangan "0" atau "-" dan boleh dibilang "Massa/ground", sedangkan kabel warna "KUNING" berupakan tegangan keluaran sebesar 12 Volt dan mempunyai arus ampere yang cukup lumayan untuk catu daya.
3. Karena kebutuhan tegangan untuk Radio RX maupun TX nya sebesar 9 volt, maka dibutuhkanlah sebuah rangkaian Regulator penurun voltage dari 12 volt menjadi 9 volt




4. Barulah setelah itu rakit rangkaian Modul COP (Carrier Operated Relay) :


Gb : Schematic


Gb : Schematic


Setelah itu setting semua rangkaian dalam box case amplifier, dan layaknya diperlukan pengeboran di sisi2 tertentu untuk kedudukan modul, Radio TX maupun RX nya. untuk desain memang dibutuhkan ketrampilan dan kesabaran.

Kedudukan radio dapat memanfaatkan connector antena luar sebagai penyangga.

Dan jangan lupa tambahkan Fan 12 volt diposisikan pada radio TX untuk proses cooling agar radio TX dapat bertahan lama dikarenakan fungsi Radio TX sebagai pemancar dapat menghasilkan suhu panas pada final transistornya.

Penggunaan Radio Handy Talky merk Suicom ini adalah tidak mutlak, penggunaan radio merk lain sah-sah aja asal diketahui alamat Speaker out, Mic maupun PTT nya.


Untuk adjust audio dapat diatur dengan menyesuaikan volume pada Radio RX nya. Dan pengembangan operasional dapat pula ditambahkan Code Tone dan lain sebagainya pada Radio RX dan tentu saja untuk setting frequensi pada Radio Portable adalah kebalikan dari frequensi TX dan RX pada Repeater yang telah dirakit.

Demikian semoga dapat bermanfaat untuk kepentingan yang positif. ncaran sebesar 5 watt dimana Handy Talky termasuk golongan GMRS (General Mobile Radio Service) dan digunakan untuk perorangan dan dapat menggunakan Repeater untuk menambah jarak jangkau.
Share:

BNPB Menerbitkan Pedoman-Pedoman Penanggulangan Bencana

MPBI News, Jakarta
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerbitkan sejumlah buku pedoman mengenai pelaksanaan teknis penanggulangan bencana (PB). Penerbitan buku pedoman-pedoman PB ini merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (UU 24/2007), Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perpres 8/2008), Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (PP 21/2008), Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana (PP 22/2008), dan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Nonpemerintah dalam Penanggulangan Bencana (PP 23/2008).

Daftar buku pedoman-pedoman PB itu antara lain:

1.Peraturan Kepala BNPB Nomor 3 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan`BPBD (Perka BNPB 3/2008) 11 November 2008
2.Peraturan Kepala BNPB Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (Perka BNPB 4/2008) 17 Desember 2008
3.Peraturan Kepala BNPB Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Penggunaan Dana Siap Pakai (Perka BNPB 6/2008) 17 Desember 2008
4.Peraturan Kepala BNPB Nomor 7 Tahun 2008 tentang Pedoman Tata Cara Pemberian Bantuan Pemenuhan Kebutuhan Dasar (Perka BNPB 7/2008) 17 Desember 2008
5.Peraturan Kepala BNPB Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pedoman Pemberian dan Besaran Bantuan Santunan Duka Cita (Perka BNPB 8/2008) 17 Desember 2008
6.Peraturan Kepala BNPB Nomor 9 Tahun 2008 tentang Prosedur Tetap Tim Reaksi Cepat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Perka BNPB 9/2008) 17 Desember 2008
7.Peraturan Kepala BNPB Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pedoman Komando Tanggap Darurat Bencana (Perka BNPB 10/2008) 17 Desember 2008
8.Peraturan Kepala BNPB Nomor 11 Tahun 2008 tentang Pedoman Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana (Perka BNPB 11/2008) 17 Desember 2008
9.Peraturan Kepala BNPB Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pedoman Kajian Pembentukan dan Penyelenggaraan Unit Pelaksana Teknis (Perka BNPB 12/2008) 17 Desember 2008
10.Peraturan Kepala BNPB Nomor 13 Tahun 2008 tentang Pedoman Manajemen Logistik dan Peralatan Penanggulangan Bencana (Perka BNPB 13/2008) 17 Desember 2008

Khusus pada buku Pedoman Pembentukan BPBD ada dua peraturan yang dijilid menjadi satu yaitu:

1. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 46 Tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Permendagri 46/2008).
2. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Perka BNPB 3/2008).

Buku pedoman-pedoman PB tersebut dibagikan kepada para peserta dalam acara “Rapat Konsolidasi dan Percepatan Pembentukan BPBD” pada tanggal 16 April 2009 di Hotel Millenium, Jakarta. Bila diantara para pembaca berita ini ada yang tertarik untuk mendapatkan buku pedoman-pedoman PB itu silahkan menghubungi:

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
Jl. Ir. H. Juanda No. 36 Jakarta Pusat
Telp POSKO : 021-3458400
Fax : 021-3458500
Email : posko@bnpb.go.id
Share:

Murid SD Perlu Diberi Pelajaran Kebencanaan

SOREANG, (PR).-
Budaya hidup akrab dengan bencana seyogianya ditanamkan sejak dini lewat pemberian pelajaran muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah di wilayah rawan bencana di Kab. Bandung. Sekolah jangan mengasingkan murid-muridnya dari realitas lingkungan di sekitarnya.

"Muatan lokal mesti dirumuskan sesuai dengan kondisi lingkungan masyarakat di sekitar sekolah. Tidak usah mengawang-awang, bicara teoretis. Kalau tinggal di sekitar Sungai Citarum dan tiap saat menghadapi banjir, ya itu yang dijadikan bahan pembelajaran," ucap anggota Komisi C DPRD sekaligus mantan Ketua Panitia Khusus Banjir Gun Gun Gunawan, Kamis (16/12).

Dengan memberikan kurikulum kebencanaan, anak-anak yang tinggal di kawasan rawan bencana sejak dini dikenalkan dengan model-model hidup yang akrab dengan bencana. Diharapkan, ketika tumbuh besar, mereka dapat mengambil sikap lebih matang.

Selain itu, Gun Gun juga mendorong pemerintah memberikan teladan penanganan bencana secara tepat, terutama dalam hal penganggaran. Dengan dukungan penganggaran yang baik, banyak upaya pencegahan dan penanganan bencana bisa dilakukan.

Sederhana

Kepala SDN Mekarsari Baleendah Yuni Purnama menyambut baik kurikulum kebencanaan. Selama ini, karena belum ada mulok kebencanaan, pemberian materi kebencanaan diselipkan di antara pelajaran yang sudah ada, terutama ilmu pengetahuan alam. "Kami selalu mengingatkan murid untuk membungkus buku dan rapor dengan plastik dan disimpan di tempat yang tinggi. Jika banjir sewaktu-waktu datang, barang-barang tersebut akan terselamatkan," tuturnya.

Di SDN Mekarsari, dari 377 murid yang ada, lebih dari 90 persennya warga RW 20 Kampung Cieunteung yang menjadi langganan banjir. Namun, karena banjir, memaksa orang tua mereka terus-menerus mengungsi. Sekitar tiga puluh murid tidak bisa bersekolah setiap hari. (A-165)***

Sumber : pikiran rakyat online
Share:

Penanganan Banjir Harus Menjadi Prioritas

SOREANG,(GM)-
Mantan Bupati Bandung periode 1995-2000, Hatta U. Djatipermana meminta Bupati Bandung, Dadang Naser dan Wakil Bupati Bandung dan Deden R. Rumaji agar memprioritaskan permasalahan banjir di Kab. Bandung.

"Penanganan banjir harus menjadi prioritas utama bagi pemerintah baru Kab. Bandung, tadi sudah dikatakan oleh Gubernur dan ini harus diupayakan penyelesaiannya," ungkap Hatta di sela-sela pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Bandung di Gedung Moh. Toha, kompleks Pemkab Bandung, Soreang, Rabu (15/12).

Oleh karena itu program pemerintah dalam banjir ini harus diselesaikan secara bersama-sama antara pemerintah dengan masyarakat. "Masyarakat juga harus bisa membantu program pemerintah dan tentunya pemerintah juga harus bisa melaksanakan tugasnya," katanya.

Hatta juga berharap Bupati dan Wakil Bupati Bandung menyejahterakan masyarakat dan tentunya bisa membawa Kab. Bandung lebih maju lagi. "Tentunya harapan saya pemerintah sekarang bisa membawa Kab. Bandung lebih maju dan lebih baik lagi dan yang terpenting menyejahterakan masyarakat Kab. Bandung," paparnya.

Hal senada diutarakan Deden (38), warga Dayeuhkolot, Kab. Bandung. Ia meminta Bupati dan Wakil Bupati Bandung yang baru untuk menyelesaikan masalah banjir karena sudah lama tidak ada solusinya. "Banjir harus menjadi agenda utama bupati dan wakil bupati yang baru, mengingat sudah lama sekali banjir ini tidak ada penyelesaiannya," katanya.

Sementara itu, salah seorang seniman buhun Gong Renteng Mbah Bandong, Karhim (58), meminta agar pemerintah memperhatikan kebudayaan daerah. "Tentunya pemerintah sekarang harus lebih memperhatikan kesenian daerah agar tidak terkikis kebudayaan asing," jelasnya.

Selain memperhatikan kesenian, warga Lebak Wangi, Kp. Kabuyutan, Kec. Arjasari ini pun meminta pemerintah yang baru untuk memperhatikan sarana dan prasarana yang ada di Kab. Bandung.

"Yang pastinya kita juga meminta perhatiannya untuk jalan yang sudah pada rusak, juga infrastruktur lainnya," paparnya.

Sedangkan menurut Euis (34), yang sehari-hari berjualan di Pasar Soreang, saat ditemui di sekitar tempat pelantikan Gedung Moh. Toha Soreang mengatakan, pemerintah harus memperhatikan masyarakat, khususnya harga barang-barang kebutuhan. "Yang terpenting buat kami pemerintah lebih peduli lagi dengan kami ini. Saat ini barang-barang sangat tinggi harganya," jelasnya. (B.84)**
Share:

Korban Banjir Keluhkan Bantuan Minim

BALEENDAH,(GM)-
Pengungsi korban banjir Baleendah, Kab. Bandung, mengeluhkan pembagian bantuan logistik atau makanan yang dinilai tidak merata. Selain itu, mereka juga mengeluhkan masih sedikitnya bantuan makanan, khususnya beras dan lauk-pauk dari pemerintah.

Menurut Edah (45), salah seorang pengungsi dari Kp. Cieunteung, beberapa kali ada bantuan yang datang dari masyarakat, dermawan atau lembaga swasta lainnya. Namun dirasakan oleh mereka tidak dibagikan merata.

"Sudah beberapa kali ada bantuan, tapi kami tidak dibagi secara rata, sehingga nasi sekitar dua piring dibagikan untuk empat kepala keluarga," ujar Edah saat ditemui di tempat pengungsian GOR Kel. Baleendah, Selasa (14/12).

Hal senada dikatakan Supriyati (46) dan Kori (40). Keduanya mengakui, para pengungsi yang ditampung di GOR Kel. Baleendah cenderung dibagi bantuan sisa, setelah bantuan tersebut dibagikan di tempat pengungsian lain.

"Kita mah cenderung dibagi sisanya, kalau kelebihan dari tempat lain baru ke sini. Masa nasi dua piring misalnya, itu untuk empat kepala keluarga ditambah satu butir telur untuk satu KK," papar Kori.

Selain itu, dikatakan ketiganya yang juga diamini pengungsi lainnya, selama di pengungsian sejak sekitar seminggu lebih, mereka baru menerima satu kali bantuan dari pemerintah Kab. Bandung melalui pemerintahan setempat. Bantuan itu berupa beras yang dibagikan 2 liter/KK, ditambah minyak goreng satu kantong (sekitar 2 liter) untuk empat KK, dan mi instan yang jumlahnya sangat minim.

"Kita baru menerima bantuan sekali, yaitu berupa raskin yang dibagi pada hari kedua setelah kita mengungsi, dan dijatahkan 2 liter/KK ditambah minyak goreng," ujar Edah sambil menambahkan, selain dari pemerintah, bantuan beras juga telah diteima dari lembaga lainnya dengan jumlah kurang lebih sama.

Menurut pegawai Kel. Baleendah yang juga sukarelawan, Jajang Jayadi, makanan atau bantuan yang dikeluhkan pengungsi tidak merata, kemungkinan yang datang dari masyarakat atau lembaga swasta lain dan langsung dibagikan ke pengungsi. Sementara bantuan dari Pemkab Bandung yang dibagikan melalui kecamatan dan kelurahan setempat, sudah dibagikan secara mereta.

Sementara itu, hingga Selasa (14/12) genangan banjir di kawasan Baleendah khususnya di Kp. Cieunteung, Kel./Kec. Baleendah, cenderung semakin surut. Termasuk genangan banjir yang merendam beberapa ruas jalan di sekitar Baleendah dan Jln. Banjaran, serta Jln. Dayehkolot.

Pantauan "GM", ketinggian air di Kp. Cieunteung tinggal 1,2 meter. Dengan ketinggian genangan banjir tersebut, arus kendaraan yang melewati Jln. Anggadireja dan Jln. Banjaran (pertigaan Daaayeuhkolot-Baleendah), kembali normal. Air banjir setinggi sekitar 10 cm hanya menggenangi sekitar 50 meter ruas Jln. Anggadireja (pertigaan) tersebut, sehingga tak terlalu memengaruhi arus lalu lintas. (B.35)**
Share:

Jumlah Pengungsi Korban Banjir Kab. Bandung Terus Menyusut

SOREANG, (PRLM).-Jumlah pengungsi korban banjir di Kabupaten Bandung terus menyusut menyusul menciutnya cakupan banjir akibat cuaca cerah tanpa hujan dalam empat hari belakangan. Dari 22.000 jiwa pengungsi saat puncak banjir, kini tinggal 9.056 orang bertahan di tujuh titik pengungsian. Dapur umum pun tak lagi difungsikan.
“Kita patut bersyukur, bencana banjir ini tidak terus meluas. Meski demikian, kami tetap meminta warga siaga menghadapi musim penghujan yang masih berlangsung. Jika sewaktu-waktu banjir lagi, evakuasi bisa dilakukan dengan baik,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Bandung Juhana Atmawisastra, Rabu (15/12).
Dengan terus berkurangnya jumlah pengungsi, BPBD memutuskan tidak memfungsikan lagi lima titik dapur umum yang didirikan saat puncak banjir. Apalagi, kebanyakan pengungsi meminta bantuan diberikan dalam bentuk mentah saja. “Mereka minta mentahnya saja. Ya kami usahakan sebaiknya dengan mendistribusikan beras dan mi instan,” ucap Juhana.
Juhana mengungkapkan, sebagian besar warga yang masih bertahan di pengungsian adalah penduduk Kelurahan Baleendah dan Kelurahan Andir. Meski sebagian dari rumah mereka sudah tidak terendam air, namun genangan lumpur tebal membuat mereka belum bisa kembali ke rumah.
Neni (47), salah satu warga Kelurahan Andir yang mengungsi di Gedung Kwarcab Pramuka, Baleendah, mengungkapkan, genangan air sudah pergi dari rumahnya sejak dua hari lalu. Namun, sebagai gantinya, lumpur setebal lebih dari setengah meter menutupi lantai rumah.
“Terendam lumpur jauh lebih menyusahkan daripada terendam air. Sulit membersihkannya. Apalagi air bersih sulit didapatkan,” katanya.(A-165/kur)***
Share:

Usai Dilantik Langsung Urusi Banjir

Kamis, 16 Desember 2010

BANDUNG (Suara Karya): Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meminta Bupati dan Wakil Bupati Bandung periode 2010-2015, Dadang M Naser dan Deden Rumaji, dapat memberikan perhatian khusus pada masalah banjir akibat meluapnya Sungai Citarum.
Gubernur Ahmad Heryawan menyatakan itu pada pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Bandung hasil Pilkada 2010, Dadang Naser-Deden Rumaji, Rabu (15/12), di Soreang. "Penanggulangan banjir harus menjadi prioritas tersendiri bagi bupati dan wakil bupati terpilih," katanya.
Ahmad Heryawan menyatakan percaya kepada Bupati dan Wakil Bupati Bandung usungan Partai Golkar, Dadang Naser-Deden Rumaji, akan menjalankan tugas dengan baik sesuai dengan amanah yang diberikan. Kecuali itu, dia pun menyatakan berterima kasih kepada KPU Kabupaten Bandung yang sudah melakukan pemilukada dengan lancar.
"Setelah melalui beberapa tahapan, alhamdulillah, semua berjalan lancar. Selamat kepada pasangan Dadang dan Deden dan terima kasih kepada KPU serta semua pihak yang sudah melakukan pemilukada dengan baik," kata Heryawan.
Hadir dalam pelantikan itu Kapolda Jawa Barat (Jabar) Irjen Pol Suparni Parto, Ketua DPRD Jabar Irfan Suryanegara, Ketua DPRD Kota Bandung Erwan Setiawan, Sekda Kota Bandung Edi Siswadi, dan beberapa pejabat lainnya. Pelantikan Dadang-Deden juga dihadiri para tamu undangan dari berbagai elemen masyarakat, sehingga memaksa panitia memasang layar televisi 29 inci agar mereka dapat menyaksikan jalannya acara pelantikan.
Usai prosesi pelantikan, pasangan Bupati/Wakil Bupati Bandung, Dadang/Deden, langsung mengunjungi beberapa titik banjir di daerah itu, antara lain di Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot, dan di Kecamatan Bojongsoang. (Agus Dinar)
Share:

BPBD Kab. Bandung Dirikan Lima Dapur Umum

SOREANG, (PRLM).- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung akhirnya mendirikan lima dapur umum di tiga kecamatan korban banjir, yakni Baleendah, Dayeuhkolot, dan Bojongsoang, mulai Sabtu (11/12). Persediaan logistik sementara dipastikan cukup untuk memenuhi kebutuhan pengungsi, yang kini jumlahnya mencapai 22.213 jiwa, selama empat hari ke depan.
Kelima dapur umum tersebut masing-masing didirikan di kompleks Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Telkom (2 dapur umum) bagi pengungsi asal Kec. Dayeuhkolot, halaman kantor Desa Bojongsoang (1) bagi pengungsi asal Kec. Bojongsoang, kompleks SMP Binagara (1) bagi pengungsi asal Kelurahan Andir Kec. Baleendah, dan halaman kantor Kecamatan Baleendah (1) bagi pengungsi asal Kelurahan/Kec. Baleendah. Untuk menjalankan operasional kelima dapur umum tersebut, BPBD Kab. Bandung menggandeng berbagai instansi dan lapisan masyarakat.
“Dapur umum didirikan menyusul bencana banjir yang berkepanjangan dengan jumlah pengungsi yang terus bertambah. Kami harap keberadaan dapur umum mampu mencukupi kebutuhan dasar seluruh pengungsi sehingga tidak ada yang terabaikan,” papar Kepala BPBD Kab. Bandung Juhana Atmawisastra.
Menurut Juhana, saat ini modal logistik yang dimiliki BPBD untuk menyokong dapur umum diperkirakan cukup hingga empat hari ke depan, meliputi lima ton beras, 100 liter minyak goreng, ratusan kaleng sarden, ribuan mi instan, serta ratusan kecap dan saos. Dalam waktu dekat, persediaan beras akan ditambah 15 ton. “Kami sangat bersyukur karena memperoleh sokongan dari berbagai pihak, terutama BPBD Provinsi Jabar,” katanya.
Dihubungi terpisah, Kepala BPBD Provinsi Jabar Sigid Udjwalaprana menyatakan kesiapannya menyokong setiap kebutuhan para pengungsi korban banjir di Kab. Bandung. “Apapun yang dibutuhkan dan berapapun jumlahnya, kami siap menyokong. Itu sudah menjadi komitmen. Apalagi kita semua mengerti BPBD Kab. Bandung baru seminggu lalu terbentuk,” ujarnya. (A-165/A-26).***
Share:

Banjir di Bandung Selatan belum Surut

BANDUNG--MICOM: Hingga Sabtu (11/12). banjir di Bandung selatan, Jawa Barat masih merendam lebih dari 6.000 rumah dan ratusan hektare areal persawahan, serta perkebunan di empat kecamatan yakni Bojongsoang, Baleendah, Dayeuhkolot dan Banjaran. Ketinggian air hingga 2 meter sampai 3 meter.

Meski tidak ada korban jiwa, namun, kerugian sementara akibat banjir menyusul terus meluapnya Sungai Citarum dan beberapa anak sungai lainya, seperti Citepus, diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Itupun belum termasuk kerugian ratusan pabrik tekstil yang juga ikut terendam setinggi 1,5 meter.

Di Bojongsoang, lebih dari 3.000 rumah masih terendan banjir setinggi 2 meter, di antaranya mengalami kerusakan, dan nyaris ambruk. Sedikitnya 1.590 kepala keluarga (KK) harus mengungsi.

Camat Bojongsoang Yudi Abdurahman, mengatakan banjir terparah terjadi di Desa Tegaluar, Bojongsoang. "Tidak hanya rumah, ratusan hektare areal persawahan dan perkebunan di dua desa itu, 90% tidak terselamatkan, karena padi dan tanaman lainnya siap panen mulai membusuk," ujarnya.

Banjir di Bojongsoang juga merendam Jalan Raya Margahayu yang menghubungkan Kabupaten Bandung dan Kota Bandung. Hingga kini, jalur tersebut masih belum bisa dilalui kendaran karena ketinggian air masih di atas satu meter.

Di Kampung dan Kelurahan Cieunteung, Kecamatan Baleendah, banjir bercampur lumpur masih setinggi 3 meter. Rumah yang terendam bertambah menjadi 750 unit. "Sebelumnya, rumah yang terkena banjir 550 unit. Ini banjir paling parah dibanding tahun-tahun sebelumnya," ujar Lurah Cieunteng Heru.

Semantara itu Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Bandung Juhana Atmawisastra menjelaskan pihaknya dan dinas-instan terkait masih mendata kerugian akibat banjir di sejunlah kecamatan. Namun, dugaan sementara mencapai miliaran rupiah. (EM/AX/OL-04)
Share:

Kec. Baleendah Tidak Dirikan Dapur Umum

BALEENDAH,(GM)-
Pihak Kec. Baleendah kini tidak mendirikan dapur umum untuk para pengungsi korban banjir. Pasalnya, para korban banjir itu lebih memilih diberi bahan makanan ketimbang yang sudah dimasak.

Seperti diungkapkan Lurah Baleendah, Heru Kiatno kepada "GM", Jumat (10/12). Menurutnya, untuk banjir kali ini pihaknya memang tidak membuat dapur umum seperti sebelumnya. Sebab bantuan sekarang diberikan langsung berupa beras atau mi instan.

"Kalau dulu ada dapur umum, yang dibagikan makanan yang sudah masak. Tapi karena sekarang masyarakat minta mentahannya saja dan mereka yang memasak, kita tidak membuat dapur umum lagi," jelasnya.

Dalam penyaluran bantuan, ia mengatakan, tidak dilakukan tiap hari. Terkadang bantuan diberikan untuk 2 - 4 hari.

Disebutkan, bantuan tersebut disebar ke beberapa titik pengungsian seperti GOR kelurahan, Gedung Juang, Gedung Warakawuri, dan Gedung PDIP Kab. Bandung. "Untuk bantuan, kita terus disuplai dari Pemkab Bandung melalui kecamatan. Selanjutnya kita dari kelurahan yang membagikan sumbangan ini kepada para korban bencana," katanya.

Sementara itu banjir yang melanda beberapa titik di Kab. Bandung hingga kini belum surut. Beberapa kecamatan yang masih digenangi banjir, di antaranya Kec. Baleendah, Kec. Dayeuhkolot, dan Bojongsoang. Ketiga kecamatan ini tergenang banjir akibat luapan Sungai Citarum yang sudah tidak bisa menampung air akibat curah hujan tinggi.

Pantauan "GM" di lapangan, banjir masih merendam ratusan rumah dan menggenangi Jalan Raya Banjaran, Jln. Baleendah, dan Jln. Anggadireja Baleendah. Akibatnya jalur penghubung Banjaran-Dayeuhkolot ini tidak bisa dilalui kendaraan dan dialihkan ke jalur Bojongsoang. (B.97/B.84)**
Share:

Pengungsi Banjir Citarum Mulai Terserang Penyakit

TEMPO Interaktif, Bandung - Para pengungsi korban banjir Citarum yang rumahnya terendam sejak sepekan lalu, saat ini mulai terserang berbagai penyakit, antara lain gatal-gatal, diare, pusing dan batuk.

Nursalehah, 67 tahun, warga RT 4/20, Kampung Cieunteng, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, yang mengungsi di posko pengungsian Gedung Juang, Baleendah, mengatakan saat ini dirinya sudah merasa gatal-gatal.

"Kemarin sudah ada pemeriksaan dari puskesmas, dan kami juga sudah diberi salep, tapi tetap saja masih gatal-gatal, bahkan banyak anak-anak yang batuk-batuk dan mencret," tutur Nursalehah saat ditemui Tempo di posko pengungsian Gedung Juang, Baleendah, Jumat (10/12).

Hal sama juga dirasakan oleh Murniati, 44 tahun, warga RT 2/28 Kampung Mekarsari, Kecamatan Baleendah, yang mengungsi di posko pengungsian Gedung Pertemuan Warakawari Seroja, Baleendah.

Murniati mengatakan dia bersama beberapa pengungsi lainnya juga sudah merasa gatal-gatal sejak berada di pengungsian. "Semua pengungsi di sini berjumlah 142 jiwa, dan semua mulai merasakan gatal-gatal," katanya.

Menurut Murniati, dirinya sudah menemui pihak kelurahan dan menginformasikan keluhan para pengungsi. "Rencananya besok akan ada pengobatan di kelurahan, kami disuruh untuk datang ke sana," ujarnya.

Dari pantauan, ketinggian air di tiga kecamatan yang terendam banjir akibat luapan Citarum, yaitu Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang masih lebih dari dua meter. Banjir juga masih menggenangi beberapa ruas jalan, yaitu Jalan Raya Banjaran, Jalan Anggadireja dan Jalan M Toha.

ANGGA SUKMA WIJAYA
Share:

Sebanyak 4.541 Rumah di Rancaekek Terendam Banjir

SOREANG, (PRLM).- Sudah 4.541 di Kecamatan Rancaekek rumah terendam banjir akibat hujan yang terus mengguyur kawasan Kec. Rancaekek, Kab. Bandung hingga Kamis (9/12). “ Akibat banjir ini 11 rumah semi permanen rusak berat. Yang paling parah terkena dampak banjir adalah Desa Rancaekek Wetan dan Desa Bojongloa,” katanya saat ditemui “PRLM” di Kab. Bandung, Kamis (9/12).
Berdasarkan pemantauan “PRLM”, Kamis (9/12) terdapat 11 rumah rusak berat, dan 20 sekolah, 32 tempat ibadah dan 400 hektar lahan persawahan ikut terendam banjir. Camat Rancaekek, Meman Nurjaman mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum bisa menaksir berapa total kerugian yang dialami warga Kec. Rancaekek.
Meman menuturkan, sebanyak 800 warga ikut diungsikan dari banjir pada Rabu (8/12) malam. Namun, saat ini warga sudah kembali ke rumah masing-masing.
“Kita harus mengenali karakter banjir di Kec. Rancaekek karena jenisnya berbeda dengan kawasan Kec. Baleendah. Kalau di Baleeendah airnya tenang sehingga mengevakuasi warga bisa dengan perahu karet. Namun, banjir di Kec. Rancaekek ditandai air yang sangat deras sehingga saat mengevakuasi warga perlu menggunakan tambang yang terikat dengan patok. Misalnya, seperti banjir di Desa Bojongloa,” tuturnya.
Meman menjelaskan,banjir di Kec. Rancaekek ketinggian airnya mencapai 30-100 cm pada Rabu (8/12) hingga Kamis (9/12) dini hari. “ Misalnya, banjir di Desa Linggar yang saat ini masih belum surut,” katanya.
Menurut Warga Kampung Depok RT 3/RW 3 Desa Linggar, Kec. Rancaekek Indra Jaya Permana (28), rumahnya saat ini masih terendam air dengan ketinggian 70 sentimeter. “Akibat Kali Cimande meluap jadi masuk ke rumah saya. Dan, belum surut hingga sekarang,” katanya.
Sementara itu menurut warga Desa Linggar lainnya, Cemed (30) warga Kampung Jambu Leutik RT 01/ Rw 07 Desa Linggar, Kec. Rancaekek, mengatakan rumahnya sempat terendam hingga ketinggian satu meter. “Namun, saat ini sudah surut tapi ketinggian air masih mencapai 80 sentimeter. Untuk bisa bebas banjir perlu waktu seminggu,” katanya. (A-194/A-26).***
Share:

Banjir Genangi Jalur Palasari - Bale Endah Bandung

TEMPO InteraktifBandung - Banjir memutus jalur lalu lintas Palasari - Bale Endah Jalan Raya Dayeuh Kolot sepanjang sekitar 400 meter mulai mulai depan pabrik tekstil PT Marga Sandang hingga PT Metro Garmin, Kabupaten Bandung, Rabu (8/12) pagi. Banjir ini akibat melubernya air selokan yang bermuara ke Sungai Citarum, yang juga meluap di kawasan Cieunteung, Bale Endah, menyusul hujan sepanjang sore hingga malam kemarin.

"Banjir sejak Selasa malam. Apalagi sejak kemarin sore sampai malam hujan terus-terusan turun di sini," kata Agus, 36 tahun,  penarik becak yang tengah mangkal di dekat PT Marga, Rabu (8/12).


Menurut Agus, banjir memang biasa merendam kawasan tersebut bila musim hujan dan Sungai Citarum meluap. "Banjirnya sekarang tinggal setinggi mata kaki sampai lutut orang dewasa. Kemarin-kemarin banjirnya lebih dalam dan panjang," imbuh warga Lamajang, Dayeuh Kolot itu.


Kepolisian Sektor Dayeuh Kolot sempat menutup penggalan jalan tersebut mulai sekitar pukul 00.00 hingga 09.00 pagi tadi. "Karena dinihari tadi ketinggian air di jalan sampai setinggi perut orang dewasa. Setelah lebih surut sekitar jam 09.00 tadi jalan kami buka lagi," kata Kepala Polsek Dayeuh Kolot Komisaris Edi Heryanto di lokasi kejadian.


Edi menargetkan jalan raya kering kembali sekitar tengah hari nanti. "Kami sudah memasang pengisap air yang bekerja otomatis kalau terjadi banjir. Tapi dari pengalaman sebelumnya, air biasanya benar-benar surut dari jalan menjelang tengah hari nanti," imbuhnya.

Pantauan Tempo di lokasi mulai sekitar pukul 08.30 pagi, di tengah jalan raya di dekat perempatan Jalan Raya Dayeuhkolot dengan Jalan Cisirung Kepolisian Sektor Dayeuh Kolot memasang peringatan tentang adanya banjir untuk kendaraan dari arah Kota Bandung.


Peringatan yang ditulis di atas karton dan ditaruh di meja itu sekitar 300 meter dari PT Marga. Bunyinya "Banjir", "Arah Bale Endah Banjir." Sejumlah polisi berjaga di sekitarnya. Namun begitu sejumlah kendaraan dari arah Kota Bandung, terutama sepeda motor, tetap nekat membelah banjir. Sebagian kendaraan tersebut tampak mogok di tengah banjir.


Meski dianggap musibah oleh sebagian orang, banjir musiman ini ternyata berkah bagi orang lainnya. Bagi penarik becak seperti Agus, banjir ini juga potensi rezeki nomplok.
Agus dan kawan-kawan siap membelah banjir untuk mengantar penumpang ke tempat tujuan. Belasan dari mereka tampak mengantri menunggu penumpang antara lain di dekat PT Marga. "Kami pasang tarif Rp 5000 sampai Rp 10.000 tergantung jumlah penumpang yang naik," ujarnya.

Erick P. Hardi
Share:

"Sekolah Kami Belum Bersih, Banjir Datang Lagi..."

Dalam genangan air sedalam setengah meter, puluhan meja dan kursi jungkir-balik di halaman kompleks sekolah itu, Rabu (8/12) siang. Beberapa monitor komputer dan satu mesin fotokopi yang masih menyisakan lumpur di beberapa sisinya, tergeletak di sudut-sudut terasnya. Di dalam ruangan kelas dan kantor guru, ada ribuan buku dan arsip yang basah, termasuk ratusan rapor siswa yang belum kering.

Malam sebelumnya, banjir kembali menggenangi Kompleks SMP 1, SMA 2, dan SMK Handayani, di Blok Nambo, Desa Batukarut, Kec. Arjasari, Kab. Bandung tersebut. Itu adalah banjir ketiga dalam seminggu terakhir. Yang pertama dan yang paling besar, terjadi Rabu (1/12) lalu. Sejak hari itulah, lebih dari tujuh ratus siswa di tiga sekolah itu, tak bisa lagi belajar di kelas. Kompleks sekolah ini pun lumpuh.

Lilis, Pembantu Kepala Sekolah Bidang Sarana SMK Handayani mengungkapkan, siswa datang ke sekolah hanya untuk bersih-bersih. "Setelah banjir pertama, kami langsung membersihkan sekolah dan menyelamatkan arsip. Namun, datang banjir kedua, Jumat (3/12) malam, semua terendam lagi. Setelah semua dibersihkan, datang lagi banjir semalam," ucapnya.

SMK Handayani menderita kerugian paling besar. Ratusan meja dan kursinya rusak diterjang air luapan Sungai Citalutug yang jaraknya tak sampai empat meter dari kompleks tersebut. Dua puluh komputer yang menjadi sarana praktik utama siswa Jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) rusak. Ratusan rapor siswa juga ikut terendam air.

Arsip dan buku-buku milik SMA 2 Handayani juga tak luput dari terjangan air. Meskipun sebagian besar rapor terselamatkan karena ditaruh di rak tinggi, semua buku koleksi perpustakaan sekolah ini ludes diterjang banjir. Enam komputer milik SMA ini juga ikut terendam.

"Untungnya, buku induk sekolah juga bisa diselamatkan," tutur Encang, petugas Tata Usaha SMA 2.

SMP 1 Handayani menderita kerugian paling sedikit. Sepuluh komputer baru bagi laboratorium mereka terhindar dari banjir karena hanya beberapa hari sebelum kejadian, semuanya telah dipindahkan ke lantai dua kompleks tersebut. "Beberapa puluh rapor masih basah. Belum tahu, ketika dikeringkan nanti, tulisan di dalamnya masih jelas terbaca atau tidak," kata Iman Nurjaman, petugas Tata Usaha SMP tersebut.

Selama seminggu terakhir, siswa tak hanya bergotong royong membersihkan kelas, sebagian dari mereka juga begadang di sekolah setiap malam untuk berjaga-jaga. Intensitas hujan yang tak mengendur membuat seluruh penghuni sekolah itu waswas. "Sudah lima tahun terakhir sekolah kami bebas banjir. Sekarang (banjir) datang lagi dan jauh lebih besar," kata Lilis.

Tiadanya kegiatan belajar-mengajar selama seminggu terakhir menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para siswa. Apalagi, Senin (13/12) nanti, ujian semester ganjil akan dimulai. "Semoga saja banjir tidak datang lagi. Kami sudah banyak ketinggalan pelajaran," ujar Suci (17), siswa kelas X Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Handayani.

Lilis mengungkapkan, pengelola sekolah belum bisa memastikan di mana ujian nanti akan digelar. Jika banjir kembali datang, bukan tidak mungkin siswa akan melangsungkan ujian di kompleks SMP 2 dan SMA 1 Handayani di Bojongsereh, Arjasari. Kedua kompleks sekolah tersebut berada dalam naungan yayasan yang sama. Namun, jika kelas tidak tergenang, kata Lilis, ujian bisa saja dilakukan dengan cara lesehan.

Kepala Dinas Pendidikan Kab. Bandung Juhana mengaku, belum ada pendataan terperinci berapa sekolah yang menjadi korban banjir dan jumlah ataupun bentuk kerugian yang diderita. Timnya sedang melakukan tugas tersebut di lapangan.

Namun, ia menjanjikan, dalam jangka panjang, perbaikan sarana ketiga sekolah tersebut akan dilakukan, termasuk penggantian perangkat komputer yang rusak. Namun, ia meminta, untuk saat ini kegiatan belajar-mengajar tetap dilangsungkan tanpa harus menunggu kesiapan ruang kelas.

"Dalam keadaan darurat, kegiatan belajar-mengajar bisa dilakukan di mana saja. Bisa di sekolah lain atau dengan memberikan tugas kepada siswa di rumah. Jangan sampai hal ini terhenti," ujarnya. (Ag. Tri Joko Her Riadi/"PR")***

Share:

Banjir Rendam 750 Rumah di Desa Linggar, Rancaekek

SOREANG, (PRLM).- Hujan deras yang terus menguyur Desa Linggar, Kec. Rancaekek, Kab. Bandung pada Selasa (7/12) malam, membuat sekitar 750 rumah terendam banjir dengan rata-rata ketinggian mencapai 30 s/d 50 centimeter.

Selain merendam ratusan rumah, banjir tersebut membuat ratusan hektar lahan pertanian di Desa Linggar mengalami kerusakan berat. Dan, warga juga tidak bisa melakukan usaha karena barang dagangannya terendam air.

Berdasarkan pemantauan “PRLM”, lokasi yang terendam air di Desa Linggar mencapai 11 RW dan 36 RT. Meskipun, saat ini rendaman air telah surut. Namun, imbas banjir yang menerjang di Desa Linggar tersebut masih terasa oleh beberapa warga. Salah satunya rumah yang dihuni Atikah (34) warga Kampung Babakan Asem RT 04/ RW 01 Desa Linggar, Kecamatan Rancaekek Kab. Bandung banjir masih merendam rumahnya dengan ketinggian air mencapai 50 centimeter.

“Sebenarnya rumah saya sudah terendam air sejak dua hari yang lalu yakni sejak hari Senin (6/12) saat Kali Cimande meluap karena tak mampu lagi menampung air. Ditambah lagi dengan kondisi hujan terus mengguyur sehingga rumah saya masih terendam hingga sekarang,” katanya, Rabu (8/12).

Atikah menjelaskan, akhir-akhir ini rumahnya sering kali terendam banjir semenjak jalan di Desa Linggar dibeton sehingga posisi rumahnya lebih rendah dibandingkan jalan. “Jadi saat hujan turun air langsung masuk rumah karena gorong-gorong di sekitar jalan meluap,” tuturnya.

Hal serupa juga dialami Suherman (32) warga Kp. Babakan Asem RT 04/RW 01 Desa Linggar yang merupakan tetangga Atikah (34) rumahnya sempat terendam hingga mencapai ketinggian 30 sentimeter. Namun, nasib Suherman (34) lebih beruntung karena air yang menggenangi rumahnya pada Rabu (8/12) pagi sudah surut. “Kali Cimande yang berada dibelakang rumah saya saat ini sudah dangkal sehingga setiap hujan deras pasti meluap,” katanya.

Dia pun berharap agar Pemerintah Kab. Bandung memperhatikan warga di Desa Linggar yang akhir-akhir ini sering terendam banjir. “ Sampai saat ini, belum ada bantuan dari Kab. Bandung. Warga hanya minta ditinjau,bagaimana situasi dan keadaan disini karena Kali Cimande saat ini sudah dangkal. Perlu adanya Normalisasi Kali Cimande,” ujarnya.

Sementara itu Kades Desa Linggar, Yoyo Iryadi mengatakan pihaknya terus berupaya agar Kali Cimande tidak terus meluap, salah satu upayanya yakni pembersihan rutin yang dilakukan setiap tahun dengan para warga. “Tetap saja Kali Cimande meluap. Satu-satunya cara yakni dengan normalisasi kali oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS),” katanya.

Untuk mengantisipasi banjir susulan, katanya, pihaknya telah menurunkan 32 orang yang terdiri dari Linmas dan aparat desa. “Setiap malam kita selalu berkeliling Desa Linggar memantau titik-titik yang rawan banjir,” tuturnya. (A-194/das)***

Share:

Maps

Pengikut