ORARI, Bagian Penting Komunikasi Kebencanaan

KOMUNIKASI dalam kebencanaan memegang peranan sangat penting. Melalui komunikasi yang lancar, informasi kebencanaan maupun data-data lainnya bisa cepat diperoleh. 

Salah satu organisasi yang eksis dalam komunikasi kebencanaan khususnya di wilayah Kab. Bandung, Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (ORARI) Kab. Bandung. Untuk memantau kondisi kebencanaan terkini, radio komunikasi di ruang Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus disiagakan. Berbagai informasi terkait kebencanaan terdengar di radio tersebut.

Ketua ORARI Korwil Kab. Bandung yang juga Ketua ORARI Lokal Bandung Selatan, H. Dadan Konzala, Minggu (8/5) menuturkan, ORARI Kab. Bandung eksis membantu BPBD Kab. Bandung dalam hal kebencanaan. Anggota ORARI di Kab. Bandung yang berjumlah 600 orang menyebar di setiap kecamatan, sehingga jika terjadi bencana alam bisa langsung menginformasikan kepada BPBD Kab. Bandung.

"Komunikasi salah satu bagian terpenting dalam kebencanaan dari mulai prabencana, kedaruratan hingga pascabencana," ujarnya didampingi Sekjen ORARI Bandung Selatan, Arie Anwar.

Menurut Dadan, penyelengaraan komunikasi kebencanaan ini diatur dalam perundang-undangan, sehingga ORARI eksis dalam komunikasi kebencanaan dan mempunyai frekuensi sendiri.

Diakui Dadan, dalam kondisi tertentu, terkadang alat komunikasi canggih pun tidak bisa dipakai karena keterbatasan sinyal. "Seperti kejadian di Dewata, Pasir Jambu beberapa waktu lalu. Ketika semua HP tidak bisa dipakai karena tidak ada signal, kita terus memberikan laporan," katanya.

Dengan eksisnya ORARI dalam komunikasi kebencanaan, Dadan mengaku hingga kini belum ada perhatian khusus dari pemerintah setempat. Padahal organisasi sejenis yang menyumbang kepada Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah ORARI. 

Sementara itu Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kab. Bandung, Cecep Hendrawan mengakui, ORARI sangat membantu dalam kebencanaan. "Iinformasi apa pun bisa dilakukan lewat radio komunikasi," ujar Cecep yang juga anggota ORARI. (dadang setiawan/"GM")**
Share:

6 Rumah di Sukamulya Terbakar

PANGALENGAN,(GM)-
Enam rumah semipermanen di Kp. Sukamulya, RT 02/RW 06, Desa Marga Mekar, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung ludes dilalap si jago merah, Kamis (5/5) pukul 09.30 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, sedangkan kerugian materi diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.

Rumah yang terbakar ini milik Cuncun, Dadi, Tia, Jubaedi, Eman, dan Dadan. Korban kebakaran yang berjumlah 18 orang, sekarang menginap di rumah tetangga terdekat.

Berbagai keterangan yang dihimpun "GM", peristiwa tersebut pertama kali diketahui warga yang kebetulan lewat di sekitar lokasi. Namun belum bisa dipastikan api berasal dari rumah siapa, karena ketika diketahui api sudah membesar dan membakar beberapa rumah. Rumah-rumah tersebut kosong karena penghuninya sedang bekerja di kebun dan sawah.

Kades Marga Mekar, Ade Wahyu menuturkan, api cepat sekali membesar karena rumah yang terbakar semipermanen. "Api berhasil dipadamkan warga satu jam kemudian menggunakan peralatan seadanya dan kebetulan di sekitarnya ada kolam," katanya.

Sementara Mantri Polisi (MP) Kec. Pangalengan, mengatakan, korban kebakaran sudah didata dan diserahkan ke Pemkab Bandung. Pihaknya juga sudah mengajukan bantuan ke Pemkab Bandung untuk para korban.

Dapat bantuan

Sementara korban bencana kebakaran di Kp. Nagrak RT 03/RW 07, Desa Jatisari, Kec. Cangkuang, Kab Bandung mendapat bantuan berupa uang dan family kit dari Pemkab Bandung. Pemkab Bandung juga memasang tenda darurat untuk tempat tinggal sementara korban.

Kebakaran yang menghanguskan rumah semipermanen milik Sunaryem dan Beben, terjadi Rabu (4/5) sekitar pukul 05.00 WIB. Rumah korban beserta isinya habis dilalap api.

Dituturkan Sunaryem, dirinya sekarang tinggal di rumah tetangga karena tenda darurat yang dipasang pemerintah belum bisa digunakan karena tanahnya becek diguyur hujan. "Kata pihak desa akan dipasang papan dulu, makanya sementara saya tinggal di rumah tetangga saja," ujarnya.

Bupati Bandung, Dadang M. Naser usai menyerahkan bantuan mengatakan, bantuan sebagai bentuk kepedulian dari pemerintah. Bupati berharap pihak swasta membantu meringankan penderitaan korban.

"Mungkin bantuan dari Pemkab Bandung tidak akan cukup mengganti rumah dan isinya karena keterbatasan anggaran. Makanya saya harap ada pihak swasta yang peduli. Bahkan saya juga meminta masyarakat bahu membahu memberikan bantuan," ujarnya.(B.97)**


Share:

5.300 Rumah di 2 Kecamatan Terendam Banjir

BALEENDAH,(GM)-
Kecamatan Baleendah, khususnya di Kp. Cieunteung, Kel. Baleendah dan Kp. Cigosol, Kel. Andir, Senin (2/5), kembali direndam banjir. Sejak Senin dini hari, air setinggi 2 meter hingga 3 meter merendam sekitar 5.300 rumah di kawasan tersebut.

Dari pantauan "GM", Senin pagi, luapan banjir Cieunteung kembali memutuskan jalur Jln. Anggadireja, Baleendah menuju arah Ciparay atau Majalaya. Badan Jln. Anggadireja sepanjang sekitar 300 meter yang melewati Kp. Cieunteung tergenang banjir setinggi 50 cm, sehingga menyulitkan kendaraan bermotor lewat.

Kendaraan yang akan menuju Ciparay atau Malajaya terpaksa berbelok arah melalui Jalan Raya Banjaran. Kondisi tersebut membuat antrean kendaraan di jalur Jalan Raya Banjaran maupun Jalan Raya Dayeuhkolot sebelum pertigaan Dayeuhkolot-Baleendah.

Camat Baleendah, Uka Suska Puji Utama yang dikonfirmasi "GM" mengenai jumlah rumah yang terendam, mengatakan, dari pendataan yang dilakukan petugas lapangan baik dari unsur aparat kecamatan, aparat desa maupun relawan, total rumah yang terendam sebanyak 5.317 rumah. Terdiri dari 2.074 rumah di Kel. Baleendah dan 3.245 rumah di Kel. Andir.

Menurut Uka, hingga Senin siang, petugas lapangan sudah mengevakuasi 90 kepala keluarga (KK) atau sekitar 286 jiwa. Mereka sebagian besar tinggal di Kp. Cieunteung, Kel. Baleendah dan Kp. Cigosol, Kel. Andir.

Korban banjir di Kp. Cieunteung sebanyak 43 kepala keluarga (KK) atau 147 jiwa, sebanyak 40 KK atau 129 jiwa ditampung di tenda RW 28. Sedangkan 7 KK atau 19 jiwa dari Kp. Cigosol, Kel. Andir ditampung di aula kantor Kec. Baleendah.

Mengenai bantuan logistik, Uka mengatakan, hingga Senin kemarin pihaknya telah menyalurkan sekitar 3,5 ton beras, paket sembako yang jumlahnya masih terbatas, dan selimut kepada para pengungsi. Selain itu, Dinas Sosial (Dinsos) Kab. Bandung, Senin kemarin telah memberi bantuan berupa 300 kaleng sarden, lima dus kecap (ukuran botol kecil), saus dan minyak goreng dalam jumlah terbatas.

Uka mengharapkan bantuan dari Pemkab Bandung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). 

"Kita harapkan pemkab atau BPBD segera memberikan kembali bantuan untuk kita salurkan melalui kelurahan. Hal itu untuk jaga-jaga kehabisan logistik terutama beras, mengingat kemungkinan hujan akan terus turun dengan curah hujan yang meningkat, sehingga banjir pun cenderung lebih besar," katanya.

Rp 500 juta

Sementara itu, BPBD Kab. Bandung menaksir kerugian akibat banjir bandang di Kec. Majalaya dan Kec. Solokan Jeruk mencapai Rp 500 juta. Banjir menyebabkan kerusakan sekita 9.800 rumah di dua kecamatan ini.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kab. Bandung, Cecep Hendrawan, di Soreang, Senin (2/5), mengatakan, banjir bandang di Kec. Majalaya terjadi di Desa Majalaya, Sukamaju, Majasetra, Tangulung, dan Desa Bojong. Sedangkan di Kec. Solokan Jeruk, banjir hanya melanda Desa Rancakasumba.

"Kerugian sebesar Rp 500 juta baru hasil perhitungan dari 5 desa yang berada di Kec. Majalaya serta satu desa di Kec. Solokan Jeruk," katanya.

Cecep mengatakan, banjir disebabkan tingginya curah hujan di wilayah hulu Sungai Citarum yang disertai badai ringan di wilayah Kec. Paseh, seperti daerah Kamojang, Cibeureum, dan Cikembang serta Kec. Kertasari. Hujan yang masih mengguyur Kab. Bandung, dikhawatirkan masih akan menimbulkan banjir bandang.

"Yang menjadi masalah saat ini adalah endapan lumpur di daerah yang terkena banjir bandang dan saat ini masyarakat membutuhkan alat untuk mengankat lumpur, agar nanti bila terjadi banjir bandang lagi lumpur tidak semakin tinggi," ujar Cecep.(B.35/B.84)**


Share:

Infrastruktur di 4 Desa di Kec. Majalaya Rusak


MAJALAYA,(GM)-
Banjir bandang yang melanda empat desa di Kec. Majalaya, Kab. Bandung menyebabkan berbagai infrastruktur mengalami kerusakan. Sebagian jalan, gang, dan tanggul saluran air di Desa Majalaya, Majasetra, Majakerta, dan Desa Sukamaju rusak diterjang banjir.

Demikian disampaikan Camat Majalaya, Drs. Aep Ahmad Muslim, M.Si., Senin (2/5). Selain infrastruktur, 10 rumah di Desa Majaserta rusak berat, bentengnya jebol tak kuat menahan sapuan air.

Di Desa Majakerta 7 rumah rusak berat. dan di Desa Majalaya 4 rumah rusak dan di Desa Sukamaju 2 rumah rusak. "Menangani rumah yang jebol harus ada penanganan khusus. Kami mengusulkan bantuan ke Dinas Sosial Kab. Bandung karena kecamatan tidak punya anggaran," katanya.

Saat ini bantuanyang sudah disalurkan kepada korban banjir berupa peralatan tidur dan bantuan lainnya. Sejauh ini belum ada korban banjir yang sampai mengalami kesulitan untuk kebutuhan makan sehari-hari. 

Sementara itu, pascabanjir bandang di Desa Tanggulun, Kec. Ibun, Kab. Bandung, Sabtu (30/ 4), 168 korban banjir menjalani pengobatan di posko kesehatan di Kp. Tanggulun, Desa Tanggulun, Senin (2/5). Sebagian besar korban menderita gatal-gatal, rematik, pusing, maag, hipertensi, ISPA, dan luka lecet di kaki.

Tim medis sekaligus petugas dari Unit Pelaksana Fungsional Puskesmas Sudi, Kab. Bandung, Yayat Suryatna mengatakan, korban banjir yang datang ke posko belum ada yang dirujuk ke rumah sakit. "Untuk melayani warga, selain siaga di posko banjir, ada juga petugas yang mobile," katanya. 

Perlu kesadaran

Sementara itu, Bupati Bandung, H. Dadang M. Naser saat mengunjungi lokasi banjir di Kec. Majalaya, mengatakan, banjir di beberapa kecamatan di Kab. Bandung akibat lahan di kawasan hulu Sungai Citarum kurang bagus. Perlu ada upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat guna menghijaukan kawasan hutan untuk menanggulangi dan meminimalisasi bencana banjir. 

Selain itu, perlu dibangun sebuah embung-embung guna menampung air hujan di wilayah hulu Sungai Citarum. "Jadi, perlu ada peran serta masyarakat dalam upaya menanggulangi banjir," katanya. (B.105)**


Share:

Memilih Bertahan

BALEENDAH,(GM)-
Hujan deras yang mengguyur daerah hulu seperti daerah Kertasari, Ibun, Majalaya, dan sekitarnya, membuat pengungsi Baleendah memilih tetap di pengungsian. Terlebih hingga malam ada informasi banjir juga mulai melanda Majalaya dan sekitarnya.

Pantauan "GM" di lapangan hingga semalam, akibat luapan Sungai Citarum sejak Sabtu (30/4) malam, ratusan warga di Kel. Andir dan Kel. Baleendah terendam banjir dengan ketinggian lebih dari 1 meter. Akibatnya warga memilih mengungsi di GOR Kel. Baleendah, kantor Kec. Baleendah, dan tenda RW 28.

Rumah yang terendam di Kel. Andir sebanyak 2.074 unit (2.074 KK dan 8.536 jiwa), dan di Kel. Baleendah 570 unit (570 KK dan 2.280 jiwa).

Rumah yang terendam ini di Kel. Baleendah, adalah RW 09, 19, 20, 21, RW 28 dan di Kel. Andir di RW 01, 02, 03, 05, 06, 07, 08, 09, 10 dan RW 13.

Camat Baleendah, Uka Suska Puji Utama menuturkan, pihaknya kini terus siaga karena air turun naik akibat hujan terus turun di daerah hulu sungai. Berbagai bantuan pun terus diberikan kepada masyarakat yang mengungsi di beberapa titik.

"Bantuan terus kita drop ke pengungsian. Untuk sementara masih mencukupi dan kalau kurang kita minta Bantuan Pemkab Bandung. Bantuan sendiri dari kecamatan di serahkan ke kelurahan yang selanjutnya dibagikan lewat ketua RW," katanya.

Begitu pun dengan kesehatan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan. "Untuk kesehatan terus dipantau Dinkes melalui puskesmas keliling. Pemantauan kesehatan terus dilakukan tiap hari," katanya.

Hasil pemeriksaan petugas puskesmas keliling (pusling), jumlah warga yang terserang penyakit hingga Sabtu di RW 7 Kel. Andir berjumlah 90 pasien dan GOR Kel. Baleendah sebanyak 12 orang.

Pola penyakit yang diderita masyarakat di antaranya, ISPA, dermatitis, mialgia, chepalgia, diare, hipertensi, dan lainnya. (B.97)**


Share:

Banjir Telan Miliaran Rupiah

MAJALAYA,(GM)-
Banjir yang melanda empat kecamatan di Kab. Bandung akibat meluapnya Sungai Citarum, yaitu Kec. Majalaya, Ibun, Paseh, dan Kec. Solokanjeruk, diperkirakan menyebabkan kerugian puluhan miliar rupiah.


Pasalnya untuk Kec. Majalaya yang meliputi Desa Majalaya, Majasetra, Sukamaju, dan Desa Majakerta saja kerugiannya diperkirakan mencapai Rp 6,8 miliar. Hal itu diakui Camat Majalaya, Drs. Asep Ahmad Muslim, M.Si. saat dihubungi "GM", Minggu (1/5).

Asep mengasumsikan satu rumah di Kec. Majalaya mengalami kerugian Rp 1 juta. Sedangkan di kecamatan tersebut terdapat 6.800 rumah yang terendam banjir, sehingga diperkirakan kerugian akibat peristiwa itu mencapai Rp 6,8 miliar.

Jumlah tersebut belum termasuk kerugian di tiga kecamatan lainnya. Seperti Desa Tanggulun Kec. Ibun sebanyak 900 rumah, Desa Sukamantri Kec. Paseh 1.254 rumah, dan Desa Rancakasumba Kec. Solokanjeruk sekitar 600 rumah.

Kepala Desa Sukamantri, H. Mochamad Yusup bahkan mengatakan, akibat bencana banjir bandang tersebut, warga di desanya paling tidak mengalami kerugian materi hingga Rp 950 juta.

Namun untuk mengetahui secara pasti kerugian itu, aparat setempat masih mendata korban. Pasalnya dalam peristiwa itu puluhan rumah ambruk, termasuk barang-barang yang berada di dalam rumah, semua hancur akibat terendam air. 

Berdasarkan pemantauan "GM", sedikitnya 9.554 rumah yang tersebar di empat kecamatan masih terendam banjir bandang. Bahkan sekitar pukul 17.00 WIB kemarin, tujuh desa di empat kecamatan itu kembali diterjang banjir akibat meluapnya Sungai Citarum. Meski banjir yang terjadi tidak sehebat Sabtu (30/4). Pasalnya, ketinggian air rata-rata di bawah 1 meter.

Sejauh ini tidak ada warga yang dikabarkan mengalami luka-luka maupun tewas. Meski demikian, akses Jalan Raya Majalaya-Rancaekek, Desa Majasetra dan Jalan Raya Laswi, Desa Majalaya lumpuh total, karena terendam banjir dengan ketinggian rata-rata 1 meter. 

Genangan air khususnya di wilayah perkampungan yang dekat dengan bantaran sungai dan anak Sungai Citarum, meredam rumah dengan ketinggian mencapai 1,5 meter. Seperti yang terjadi di Desa Sukamantri. 

Di lokasi tersebut, sejumlah warga sempat terperangkap dan terisolasi. Petugas tim evakuasi pun kesulitan menyelamatkan mereka. Bahkan seorang nenek, Ny. Osin (80), warga Kp. Rancabali RW 12, Desa Sukamantri nyaris tewas terendam banjir, saat tertidur di rumahnya.

Bencana banjir di desa itu, akibat jebolnya tanggul Sungai Citarum di dua titik, yang masing-masing panjangnya 30 meter dan 60 meter. Banjir yang terjadi Minggu sore, juga berasal dari luapan Sungai Citarum akibat tanggul jebol.

Kepala Desa Sukamantri, H. Mochamad Yusup menambahkan, menghadapi bencana banjir kali ini, tim evakuasi mengalami kesulitan menyelamatkan warga yang rumahnya terendam banjir antara 1-1,5 meter. "Warga pun terpaksa bertahan di rumahnya," katanya.

Lakukan pengamanan

Camat Majalaya, Drs. Aep Ahmad Muslim, M.Si. mengatakan, untuk menanggulangi bencana banjir tersebut, jajaran muspika, bekerja sama dengan tokoh masyarakat berusaha melakukan pengamanan terhadap warga korban banjir. 

Ia mengatakan, dari ribuan rumah yang terendam banjir, terdapat 30-40 pabrik industri tekstil yang tersebar di Kec. Majalaya ikut menjadi korban. Akibatnya, aktivitas puluhan perusahaan itu sempat terganggu karena peralatan pabrik di perusahaan itu ikut terendam. Namun puluhan perusahaan itu tidak sampai lumpuh, sebab setelah banjir surut bisa beroperasi kembali.

"Kami sudah berusaha mengantisipasi banjir dengan cara melebarkan dan meluruskan Sungai Citarum, bekerja sama dengan Paguyuban Textile Majalaya. Selain itu, Pemkab Bandung sudah berusaha melakukan penanganan di hulu Sungai CItarum yang berada di kawasan Kamojang, Kec. Ibun, dan Gunung Wayang Kec. Kertasari. Jadi kami betul-betul melakukan penanganan secara serius," katanya.

Bahkan untuk menangani banjir susulan, pemerintah sudah merencanakan membuat sumur buatan dan danau buatan. "Itu merupakan program ke depan yang menjadi perhatian pemerintah untuk menanggulangi banjir," katanya sambil menyebutkan, banjir kali ini adalah yang terparah.

Untuk membantu warga korban banjir, Aep berusaha mengantisipasi kebutuhan air bersih, dengan cara berkoordinasi dengan PDAM Kab. Bandung. Tetapi sejauh ini, kebutuhan air belum menjadi kendala bagi korban banjir. 

Sementara itu, Kepala Desa Tanggulun, Dudu Kosasih mengatakan, untuk mengantisipasi banjir susulan di wilayahnya, pihaknya mengharapkan agar Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) memberikan bantuan beronjong berikut batu, untuk membangun tanggul Sungai Citarum yang jebol yang panjangnya mencapai 90 meter. 

Hingga saat ini, imbuh Dudu, warga korban banjir masih terlihat waswas, kendati mereka sudah terlatih dan terbiasa menghadapi banjir bandang. Untuk itu, harap Dudu, pemerintah terkait harus segera memperbaiki tanggul tersebut. 

Menurutnya, banjir kali ini pun sempat meluluhlantakkan peralatan belajar, buku dan alat tulis di lima SD di desa tersebut. Sehingga, kegiatan belajar para siswa terganggu.

Kepala Dinas Kesehatan Kab. Bandung, dr. Ahmad Kustijadi menilai, banjir yang terjadi sangat rawan bagi masyarakat terserang penyakit ISPA, gatal-gatal, dan penyakit lainnya. Tapi sejauh ini, belum ada ledakan kunjungan pasien ke posko-posko kesehatan yang disiapkan di masing-masing desa. 

"Namun untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, petugas kesehatan berusaha untuk melakukan pendataan ke rumah warga yang terendam banjir. Nantinya, pascabanjir akan dilakukan lisolisasi dan kaporitisasi," katanya. (B.105)**
Share:

Maps

Pengikut