Masa Tanggap Darurat Pasar Cicalengka Diperpanjang Seminggu

SOREANG, (PRLM).- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Bandung memperpanjang masa darurat penanganan korban kebakaran Pasar Cicalengka untuk tujuh hari mendatang. Pasokan logistik untuk korban kebakaran selama ini masih cukup baik dari Pemkab Bandung, Pemprov Jabar, maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Dari hasil evaluasi pelaksanaan tanggap darurat kebakaran pasar dan permukiman penduduk di Kp. Pasar RW 02 Desa Cicalengka Wetan menunjukkan masih belum berdayanya masyarakat di lokasi kejadian, sehingga masa tanggap darurat di perpanjang tujuh hari kedua,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bandung Cecep Hendrawan, Minggu (30/10), di ruang kerjanya.
Diberitakan sebelumnya, ratusan kios dan lapak Pasar Cicalengka musnah terbakar pada Sabtu lalu (22/10). Selain itu, ratusan rumah penduduk yang lokasinya berdekatan dengan Pasar Cicalengka dan sebuah masjid juga ikut dilahap si jago merah.
Lebih jauh Cecep mengatakan, pemenuhan kebutuhan logistik dasar kedaruratan dalam kapasitas siap yang di dukung oleh kesiapan logistik BPBD Jabar, BNPB, Dinas Sosial Jabar dan Dinsosdukcasip Kab. Bandung. “Masyarakat dan LSM juga ikut membantu dalam penyediaan logistik bagi korban kebakaran ini,” katanya.
Untuk lebih melayani lebih baik kepada korban bencana, menurut Cecep, idealnya BPBD Kab. Bandung memiliki dana siap pakai sehingga tidak terbentur urusan birokrasi dalam pertolongan kepada korban. “Sampai saat ini belum ada dana siap pakai di rekening BPBD Kab. Bandung sehingga untuk pengadaan logsitik bantuan kadang terhambat,” katanya.
Sementara itu, artis sekaligus anggota DPR, Rachel Maryam, bersama dengan pengurus Gerindra Jabar dan Kab. Bandung menyerahkan bantuan untuk korban kebakaran Pasar Cicalengka. "Kami turut prihatin dan merasakan kepedihan yang dialami para pedagang maupun masyarakat yang ikut menjadi korban kebakaran," kata Rachel dalam pernyataannya yang diterima "PRLM", Sabtu (29/10).
Bantuan yang diserahkan berupa selinmut, sajadah, sarung, pakaian seragam sekolah, dan obat-obatan. Rachel juga mendesak agar Pemkab Bandung segera membangun pasar darurat agar para pedagang bisa kembali menjalankan aktivitasnya. "Pasar lama yang terbakar juga perlu secepatnya dibangun kembali karena pasar berkaitan dengan perekonomian masyarakat," katanya.
Ikut mendampingi Ketua Gerindra Jabar H. Oo Sutisna, Ketua Gerindra Kab. Bandung H. Yayat Hidayat dan dua anggota DPRD Kab. Bandung dari Gerindra yaitu H. Aep Saefullah dan Afendi. (A-71/das)***
Share:

Pasar Cicalengka Seperti Sisa Perang

CICALENGKA,(GM)-
Pascakebakaran yang menghanguskan 639 kios dan 487 lapak PKL serta 104 rumah warga, Sabtu (22/10) pukul 14.40 WIB, Pasar Tradisional Cicalengka Kab. Bandung seperti bekas perang. Ratusan pedagang kehilangan harta benda. Bahkan sebagian kehilangan mata pencaharian setelah barang-barang miliknya ludes dilalap si jago merah.

Sementara untuk mengetahui sebab-sebab kebakaran, Polres Bandung sudah memeriksa empat saksi. Mereka adalah R. Dede Septijadi (53) Kepala UPTD Pasar Cicalengka dan tiga orang pedagang, yaitu Abas (50), Widowati (36), Sugino (36).

Pantauan "GM" di lokasi Minggu (23/10), jajaran Muspika Cicalengka, anggota DPRD Kab. Bandung, UPTD Pasar Cicalengka, dan BPBD Kab. Bandung mengadakan pertemuan dengan 100 lebih pedagang di aula kantor Camat Cicalengka, Minggu (23/10).

Pertemuan dihadiri Camat Cicalengka Achamd Rizky Nugraha, Kapolsek Cicalengka Kompol Teddy Wijaya, S.H., Danramil Cicalengka Kapten Rifai Lubis, anggota DPRD Kab. Bandung, Cecep Suhendar, dan pihak terkait lainnya.

Kapolres Bandung, AKBP Sony Sonjaya, S.I.K. melalui Kapolsek Cicalengka, Kompol Teddy Wijaya, S.H. mengatakan, pihaknya kini berusaha mengamankan barang-barang milik para pedagang yang masih tersisa. Hal itu untuk menghindari penjarahan di lokasi. Pengamanan dengan menurunkan satu peleton pasukan Dalmas Polres Bandung. "Pengamanan yang dilakukan kepolisian itu, setelah api mulai padam Sabtu malam pukul 21.30 WIB," katanya.

Untuk penyelidikan lebih lanjut pihaknya akan mendatangkan Puslabfor dari Mabes Polri untuk mengetahui penyebab kebakaran.

Camat Cicalengka, Achmad Rizky Nugraha mengatakan, berdasarkan data terakhir diketahui, 639 kios dan 487 lapak PKL, kantor UPTD Pasar, dan Masjid Ahidayah luluh lantak. Sedangkan rumah yang terbakar sebanyak 104 unit tersebar di RT 01-RT 04/RW 04 Desa Cicalengka Wetan yang dihuni 159 KK (600 jiwa). Dari ratusan jiwa itu, 76 balita dan 3 ibu hamil.

"Data ini segera kami laporkan ke Bupati," katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kab. Bandung, Bambang Budiraharjo mengatakan pihaknya belum mengetahui berapa besaran kerugian yang diderita pedagang Pasar Cicalengka.

"Untuk kerugian masih dihitung, yang jelas miliaran rupiah," tegasnya.

Pasar darurat

Pengurus Ikatan Pedagang Pasar Cicalengka Soleh mengharapkan, para pedagang bisa berdagang kembali. "Kami tak bisa menunggu lama. Apalagi, ini urusan perut," katanya.

Untuk itu, ia berharap Pemkab Bandung memfasilitasi dan merekomendasikan agar Jalan Raya Cicalengka Barat sebagai Tempat Penampungan Sementara (TPPS).

"Kami berharap, tidak terjadi perebutan lahan. Jadi, diharapkan ada garis pembatas. Soalnya, besok (hari ini, red) pedagang yang masih memiliki barang yang tersisa, bisa berjualan kembali. Jangan sampai kami menjadi korban akibat kebakaran ini. Apalagi, di pasar ini ada lebih dari 1.000 pedagang," katanya

Sedangkan Endih, pedagang pakaian mengharapkan, pasar darurat tidak jauh dari lokasi yang sekarang. Meski sampai saat ini para pedagang belum bisa menentukan akan berdagang di mana.

"Ibu mah, ingin berdagang kembali. Soalnya, sumber pencaharian sehari-hari dari berdagang," harap Hj. Oneng (56), seorang pedagang pakaian kepada "GM" di sela-sela pertemuan dengan muspika.

Sama halnya yang dikatakan Ny. Imas Masitoh (47), pedagang pakaian lainnya. Menurutnya, sebagian besar barang miliknya sudah menjadi abu.

Desakan dibangunnya pasar darurat, juga disampaikan anggota Komisi A DPRD Kab. Bandung, Cecep Suhendar. Ia menyatakan prihatin atas peristiwa kebakaran tersebut. Ia pun mengharapkan Pemkab Bandung dan dinas terkait segera memberikan pertolongan kepada para korban. "Termasuk, Pemkab Bandung juga segera mencari tempat untuk mengevakuasi para pedagang dan korban yang rumahnya terbakar," katanya.

Hal senada disampaikan Ketua Komisi D, Saepul Bahri. "Pentingnya segera membangun pasar darurat ini, supaya para pedagang tidak mengalami kerugian dobel, yaitu kerugian materi karena kiosnya terbakar dan kerugian karena tidak bisa berdagang lagi pascakebakaran. Untuk kerugian yang kedua bisa diantisipasi dengan segera membangun pasar darurat," timpal Saepul.

Sementara itu, BPBD Provinsi Jabar telah menyalurkan bantuan untuk korban kebakaran Pasar Tradisional Cicalengka, di antaranya air minum 40 dus, mi instan 40 dus, kecap 5 dus, bubur bayi 5 dus, susu bubuk 5 dus, empat terpal, tikar plastik 24 dus, selimut 30, dan minyak goreng 5 dus. Selain itu, peralatan mandi 40 dus. (B.105/B.35/B.84)**
Share:

Gelar Relawan PB untuk Mewujudkan Relawan yang Tanggap, Tangkas dan Tangguh


Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Ir. Sugeng Triutomo, DESS., - mewakili Kepala BNPB DR. Syamsul Maarif, Msi. yang sedang dalam perjalanan dari Sumatera Barat - membuka secara resmi acara “Gelar Relawan Penanggulangan Bencana Tahun 2011” di Bumi Perkemahan Kiara Payung, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, Jumat sore (14/10). Acara tersebut akan berlangsung selama 3 (tiga) hari mulai tanggal 14-16 Oktober 2011.

Dalam kata sambutan Syamsul Maarif yang dibacakan oleh Sugeng Triutomo mengatakan, “Kita dapat bersama-sama bertemu dalam acara Gelar Apel Gabungan Relawan Penanggulangan Bencana dari lembaga usaha dan organisasi masyarakat. Saya mengucapkan terima kasih dan selamat datang di Bumi Perkemahan Kiara Payung, Jatinangor ini di sela-sela kesibukan para relawan sehingga dapat hadir dalam acara ini.”

Menurut Syamsul Maarif bahwa wilayah Indonesia berada di daerah yang sangat rawan bencana, baik bencana alam maupun bencana sosial. Berbagai bencana silih berganti mengguncang Indonesia, seperti saat ini ada 16 gunung api dengan status Waspada dan 5 gunung dengan kondisi Siaga dan yang terakhir gempa bumi di Bali. Untuk itu upaya-upaya penanggulangan bencana dengan penguatan dalam mengurangi risiko bencana menjadi sangat penting, khususnya di daerah-daerah rawan bencana.

 “Peran relawan yang diandalkan dalam penanggulangan bencana selama ini sudah sangat eksis, terutama dalam masa tanggap darurat. Peranan relawan yang cukup signifikan, kecepatan dan semangat dalam melakukan aksi penanggulangan bencana. Hampir 80% upaya penanangan darurat dilakukan oleh masyarakat itu sendiri, termasuk oleh para relawan. Selain itu juga diharapkan para relawan dalam upaya penanggulangan bencana dapat lebih berperan dalam fase sebelum bencana, pada saat terjadi bencana hingga pasca bencana. Ada beberapa tantangan sehubungan dengan peran relawan, seperti koordinasi, kompetensi, prosedur tetap (protap), jaringan dan kemitraan. Oleh karena itu BNPB menganggap perlu untuk mewujudkan relawan yang tanggap, tangkas dan tangguh dalam penanggulangan bencana, “kata Syamsul Maarif seperti yang dibacakan oleh Sugeng Triutomo.

Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Ir. H. Medi Herlianto, CES, MM., sebagai Ketua Panitia Gelar Relawan PB melaporkan, “Tujuan pelaksanaan acara Gelar Relawan PB ini antara lain: (1) Membangun koordinasi yang baik dan efektif antar-relawan, (2) Meningkatkan pemahaman dan ketrampilan relawan sesuai keahlian bidang PB, dan (3) Meningkatkan kesiapsiagaan dan ketrampilan relawan melalui simulasi lapangan PB.”

Medi Herlianto melanjutkan bahwa sasaran kegiatan ini adalah sebagai berikut:
Terjalinnya koordinasi yang baik dan efektif antar-relawan penyelenggaraan Gelar Relawan.
  1.           Meningkatnya pemahaman, kemampuan dan keterampilan relawan terkait dalam penyelenggaraan PB.
  2.           Meningkatnya kesiapsiagaan relawan dan aparatur terkait dalam PB. 
“Acara dengan tema ‘Relawan Menjadi Pilar Penting dalam Penanggulangan Bencana’ ini diikuti oleh sekitar 400 peserta relawan PB yang berasal dari 25 organisasi sosial masyarakat dan 16 lembaga usaha, 6 perguruan tinggi dan Instansi Pemerintah dari Jakarta dan Jawa Barat, “kata Medi Herlianto.
Acara dalam Gelar Relawan PB ini meliputi (1) Apel Siaga gelar relawan, (2) Diskusi Cluster, (3) Pembelajaran clusterrelawan, (4) Simulasi PB, (5) Sertifikasi relawan, (6) Api unggun dan Refleksi Kegiatan, serta (7) Informasi dan media komunikasi. Pada acara ini juga terdapat pameran kebencanaan yang diikuti oleh lembaga usaha dan organisasi serta instansi pemerintah dan perguruan tinggi dengan menampilkan beberapa informasi kebencanaan dan peralatan pendukung kebencanaan. Peserta pameran antara lain:
  1.      Karina.
  2.      PT Transavia.
  3.      Sekar Telkom.
  4.      Pusdatinmas BNPB.
  5.      BPBD Provinsi Jawa Barat.
  6.      Pusat Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
  7.      Pusat Penelitian Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung.
  8.      Sinarmas.
  9.      MDMC.
  10.      Pertamina Peduli.
  11.      IOM.
  12.      Yayasan SAR Indonesia.
  13.      Artha Graha Peduli.
  14.      Compnet.
  15.      Pramuka.
  16.      STKS Bandung.
Share:

BNPB Gelar Relawan Nasional di Jatinangor


Jakarta, PODIUM - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar pertemuan dengan para relawan tingkat nasional di Bumi Perkemahan Kiara Payung Jatinangor, Jawa Barat, selama 3 hari (14-16 Oktober 2011).
Pertemuan dilakukan guna meningkatkan koordinasi dan profesionalisme para relawan. Pertemuan juga bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan, koordinasi, pemahaman dan peningkatan keterampilan relawan. 
"Kita perlu makin solidkan koordinasi diantara para relawan, dan juga meningkatkan kemampuan mereka, sehingga jika ada suatu kejadian, para relawan segera tahu harus melakukan apa dan lain sebagainya," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, kepada PODIUM di Jakarta, 14 Oktober 2011.
Lebih dari 500 relawan hadir di Jatinagor, yang berasal dari 25 organisasi sosial masyarakat, 16 lembaga usaha, 5 perguruan tinggi dan berbagai instansi pemerintah. 
"Relawan menjadi bagian penting dalam menghadapi dan penanganan sebuah bencana," tegas Sutopo. Relawan terlibat dalam pra, saat dan pascabencana, tegasnya. 
Dalam gelar relawan tersebut akan dilakukan pembelajaran sistem cluster, sertifikasi, manajemen informasi dan sebagainya.

Reporter: Mario
Editor: Anung Sari
Share:

BNPB Gelar Relawan Penanggulangan Bencana


INILAH.COM,Jakarta - Guna meningkatkan koordinasi dan profesionalis relawan maka Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar pelatihan relawan penanggulangan bencana di Bumi Perkemahan Kiara Payung Jatinangor Jawa Barat.
"Acara ini akan berlangsung selama 3 hari mulai tanggal 14 Oktober sampai - 16 Oktober 2011 dengan tujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan, koordinasi, pemahaman dan peningkatan keterampilan relawan," kata Direktur pusat data dan informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dr. Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran persnya yang diterima INILAH.COM, Jumat, (14/10).
Sutopo menjelaskan, lebih dari 500 relawan yang berasal dari 25 organisasi sosial masyarakat, 16 lembaga usaha, 5 perguruan tinggi dan berbagai instansi pemerintah ikut dalam program ini. Relawan menjadi bagian yang penting. Pasalnya, relawan terlibat dalam pra, saat dan pasca bencana.
"Dalam gelar relawan dilakukan pembelajaran sistem cluster, sertifikasi, manajemen informasi dan sebagainya," pungkas Sutopo.(ndr)
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
Share:

Gunung Papandayan Keluarkan Gas Beracun

TEMPO InteraktifGarut - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Api Papandayan yang berada di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, untuk meningkatkan kewaspadaannya saat memasuki musim hujan sekarang ini.

Sebab, gunung api yang sedang berstatus siaga ini dapat mengeluarkan gas beracun dan longsor. “Beberapa hari terakhir ini sering terjadi kabut tebal setelah diguyur hujan,” ujar Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Papandayan, Momon, kepada Tempo, Rabu, 12 Oktober 2011.

Menurut dia, gas beracun yang dapat dikeluarkan dari kawah Gunung Papandayan ini berupa gas carbon dioxide (Co2). Gas ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Bahkan dapat menyebabkan kematian bagi orang atau makhluk hidup lain yang menghirupnya langsung.

Gas berbahaya ini sering muncul setelah diguyur hujan. Sebab, air hujan yang masuk ke dalam kawah menyebabkan kondisi suhu menjadi lembap. Kondisi seperti ini pernah terjadi di Gunung Dieng, Jawa Tengah. Sejumlah hewan dan tanaman sayur mati akibat gas beracun ini. “Gas beracun ini susah dideteksi dan tidak bisa dilihat oleh pancaindra,” ujar Momon.

Karena itu, Momon meminta masyarakat dan pengunjung agar tidak mendekat ke kawah Papandayan. Jarak aman dari kawah yang telah ditetapkan sekitar 2 kilometer. “Apalagi kalau sudah ada kabut tebal, diharapkan jangan ada yang mencoba mendekat kawah,” ujarnya.

Momon menambahkan, konsentrasi gas beracun ini akan berkurang pada siang hari. Konsentrasi gas akan terpecah pada saat terkena sinar matahari dan angin. Kelembapan suhu di sekitar kawah pun akan berkurang bila sinar matahari tidak terhalang.

Selain gas beracun, di Gunung Papandayan juga sering terjadi longsor pada saat musim hujan. Guguran tanah sering terjadi di tebing bagian kanan dan kiri kawah. Rapuhnya kondisi tebing ini merupakan sisa bekas letusan pada 2002 lalu.

Momon menambahkan, meski saat ini status Gunung Papandayan masih siaga atau level III, aktivitas kegempaan relatif menurun. Berdasarkan data terakhir, tercatat 3 tektonik jauh dan satu kali vulkanik dalam. "Hingga saat ini, aktivitas Gunung Papandayan relatif menurun," ujar Momon. 

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Garut, Zat Zat Munajat, mengatakan pihaknya masih terus melakukan peningkatan kesiagaan terkait situasi Gunung Papandayan. Koordinasi pemantauan kondisi lapangan terus dilakukan dengan sejumlah instansi. “Sosialisasi terus dilakukan, pengamanan kita lebih ke masyarakat. Termasuk pemberitahuan gas beracun,” ujar Zat Zat.

Dia mengaku pihaknya pun telah melakukan simulasi dan gladi posko bersama masyarakat bila bencana letusan Gunung Papandayan terjadi. Bahkan pihaknya telah menyiapkan jalur evakuasi dan tempat pengungsian bencana.

Evaluasi kesiapan letusan Gunung Papandayan, kata Zat Zat, terus dilakukan. Misalnya, apakah perlu ada bantuan terkait terganggunya mata pencaharian penduduk dan apakah masyarakat perlu dievakuasi atau tidak dalam waktu dekat ini. “Segalanya terus kita siapkan dan pemantauan di masyarakat juga terus dilakukan,” ujarnya.

SIGIT ZULMUNIR
Share:

BMKG Prediksi Musim Hujan Bulan Oktober


JAKARTA, TRIBUNJAMBI - BMKG dalam keterangan persnya menyatakan, awal musim hujan jatuh pada Oktober 2011. 


Prakiraan ini disampaikan BMKG dalam jumpa pers yang digelar di Ruang Utama BMKG, Kemayoran Jakarta pusat, Selasa (13/9/2011).


Menurut data yang diperoleh, pada bulan Oktober, zona musim diprakirakan sebanyak 131 zona musim atau 38,3 persen. Pada bulan November, zona musim berkurang menjadi 121 zona musim atau 35,38 persen.


Kemudian, dalam tabel prakiraan musim hujan untuk daerah di Inndonesia beragam sebagai berikut :


Agustus


Daerah Sumatera bagian utara, sebagian Riau bagian barat, Tanjung Jabung, dan Kota Jambi bagian timur. Untuk pulau lain masih menghadapi musim kemarau.


September


Pulau Sumatera : Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi dan Bangka. 
Pulau Jawa : Bogor, Tasikmalaya, Ciamis dan Banjarnegara.   
Kalimantan : Ketapang, Kutai, Malinau, dan Kertanegara.


Oktober
Sumatera : Jambi, Sumatra Selatan, Lampung dan Bangka.
Jawa : Banten, Jawa Barat bagian Tengah, Jawa Tengah bagian tengah dan Jawa Timur bagian tengah Bali dan sekitarnya, kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua


November


Sumatera : Aceh dan Lampung
Jawa : Serang bagian utara, Tangerang bagian utara, DKI Jakarta, Jawa tengah dan Jawa timur.
Bali dan sekitarnya, Kalimantan, Sulawesi, maluku dan Papua.


Desember


Sebagian besar kota-kota di pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku dan Papua.


Dari tabel diatas dapat dilihat prakiraan musim hujan terbanyak pada bulan Oktober yang hampir seluruh pulau dan kota di Indonesia diguyur hujan.(*)


Editor : esotribun
Sumber : Tribunnews
Share:

Lintas Berita : "Semua Penumpang Tewas di Tempat Duduk"


MEDAN -- Setelah tiga hari, akhirnya tim evakuasi mampu mencapai lokasi jatuhnya pesawat Casa 212-200 yang celaka di Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Kamis lalu (29/9). Sayang, keberhasilan mencapai lokasi tidak dibarengi kabar menggembirakan.


Sebab, yang ditemukan tim hanyalah pesawat yang telah hancur beserta seluruh penumpangnya berjumlah 18 orang, termasuk kru yang telah jadi mayat. "Dari pencarian yang kami lakukan sampai di lokasi jatuhnya pesawat, awak dan penumpang semua meninggal dunia," kata Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya Daryatmo di Lanud Polonia, Medan, kemarin (1/10).


Menurut Daryatmo, saat ditemukan, kondisi pesawat Casa milik maskapai PT Nusantara Buana Air (NBA) itu sangat mengenaskan. Badan pesawat yang terlihat dari udara masih utuh ternyata hancur. Bagian depan pesawat hancur; sayap bagian kanan dan kiri patah; ekor pesawat juga patah dan tersangkut di pohon.


Ke-14 penumpang dan empat kru tewas dalam posisi terduduk di kursi masing-masing. Sementara pintu pesawat tertutup. "Kondisi seluruh penumpang tewas di posisi masing-masing," ucap Daryatmo.


Kata dia, diperkirakan korban tewas akibat hantaman pesawat yang menabrak pepohonan. Saat itu kecepatan pesawat antara 130"140 knot per jam. "Saat pesawat menabrak pepohonan, saat itu penumpang tewas," kata Daryatmo.


Seperti diketahui, sebelumnya tim evakuasi mengalami kendala untuk mencapai lokasi karena tempatnya yang jauh dan medan yang sangat sulit ditembus melalui jalur darat. Sehingga dibutuhkan waktu tiga hari untuk tiba di lokasi.


Pesawat Casa buatan 1989 itu berpenumpang 14 orang, empat di antaranya anak-anak serta empat kru. Pesawat berangkat dari Bandara Polonia pukul 07.28 WIB Kamis lalu. Pesawat yang seharusnya tiba di Bandara Alas Leuser, Kuta Cane, Aceh Tenggara, itu kehilangan kontak sepuluh menit sebelum mendarat.


Untuk mengevakuasi korban, tim rencananya membawa mereka ke Bahorok, kemudian baru diterbangkan dengan helikopter ke Medan. Di Medan seluruh jenazah akan dibawa ke RS Adam Malik untuk dilakukan identifikasi.


Namun, cuaca buruk benar-benar menjadi hambatan terbesar bagi tim penolong. Sekitar pukul 13.00, saat tim masih sibuk melakukan evakuasi, tiba-tiba kabut tebal menyelimuti bukit Bahorok. Evakuasi pun terpaksa dihentikan. Padahal, belum ada satu pun jenazah korban yang berhasil diangkat dari lokasi kejadian. "Cuaca lagi buruk. Lokasi pesawat ditutupi awan tebal sehingga membuat evakuasi dihentikan. Kapan dilakukan evakuasi lagi, belum tahu," ungkapnya.


Ya, Bahorok memang terkenal dengan anginnya yang mengerikan, yang sering memorak-porandakan areal persawahan dan perkebunan warga. Belum lagi cuaca yang tiba-tiba bisa berubah secara drastis.


Itu pula yang terjadi kemarin. Cuaca yang sebelumnya panas terik dalam sekejap berubah menjadi mendung, berkabut, dan angin bertiup kencang. Hal tersebut yang memaksa tim penolong menghentikan evakuasinya. Sebab, dengan kondisi seperti itu, helikopter penolong tidak bisa menurunkan tim ke dalam hutan. 


Meski demikian, tim evakuasi beranggota 14 orang yang sudah diterjunkan kemarin pagi terus berupaya membuka jalan. Tim yang terdiri atas SAR, Brimob, dan TNI itu juga membawa logistik guna bermalam di tempat jatuhnya pesawat. Mereka juga dilengkapi dengan gergaji mesin yang akan dipergunakan untuk membuka hutan agar helikopter penolong yang direncanakan meluncur pagi ini dapat mendarat di dekat lokasi. Sebab, mengevakuasi para korban tidak bisa dilakukan dengan jalan darat.


Karena itu, seluruh anggota tim yang tadi malam bermalam tak jauh dari jatuhya pesawat harus bekerja ekstrakeras menebangi hutan untuk membuat helipad. Namun, anggota tim yang sudah mengetahui dan melihat pesawat secara langsung juga tidak dapat berbuat banyak. Sebab, jika salah langkah sedikit saja, pesawat yang berada di lereng bukit tersebut dapat terjatuh ke jurang dan itu bisa memperparah keadaan.


Direktur Operasi Basarnas Marsekal Pertama TNI Sunarbowo Sandi yang berada di Posko SMP Negeri 1 Pekan, Bahorok, Kabupaten Langkat, mengatakan bahwa tim tengah berusaha mengeluarkan seluruh korban dari dalam pesawat. Menurut dia, evakuasi melalui jalur darat sulit dilakukan. Sebab, posisi pesawat berada di bukit yang terpotong. "Maka, tadi kita sarankan untuk menarik seluruh tim yang melakukan penyisiran dari jalur darat. Sebab, posisi pesawat berada di antara bukit yang terpotong. Jangan sampai nanti tim SAR malah jadi di-SAR," tutur Sunarbowo.


Mengenai kondisi pesawat saat ini, Sunarbowo juga mengatakan, kondisi pesawat di bagian depan hancur karena terkena benturan keras pada dinding gunung. "Untuk posisi di depan, kita harus memotong kursi pesawat," ucapnya.


Sementara itu, soal anggapan lambatnya evakuasi, Daryatmo membantahnya. "Tidak, kita sudah melakukan dengan baik dan sesuai dengan prosedur. Karena posisi pesawat yang bagian depan dan belakang masih nyangkut di pohon, kalau tidak hati- hati, pesawat akan masuk jurang lagi," bebernya.


Daryatmo juga membantah kabar bahwa ada korban yang sempat melakukan komunikasi dengan telepon seluler dan berasumsi bahwa korban masih hidup. "Saya mengerti hal itu. Namun, dari hasil observasi pesawat, kecil kemungkinan selamat. Tidak benar korban yang sempat menelepon melambai-lambaikan tangan," tandasnya. (ris/min/jpnn/c9/nw)
Share:

Maps

Pengikut