Masyarakat Harus Paham Mitigasi Bencana

SOREANG,(GM)-
Masyarakat terutama yang tinggal di daerah rawan bencana alam, perlu memahami mitigasi bencana. Masih adanya kerugian besar maupun korban jiwa ketika terjadi bencana, menandakan mitigasi bencana belum sesuai dengan yang diharapkan.

Kepala Bidang Kabid Kedarutaran dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Bandung Cecep Hendrawan mengatakan, untuk mengurangi risiko bencana, pihaknya terus melakukan sosialisasi mitigasi bencana kepada para tokoh masyarakat. Sosialisasi ini diikuti fasilitator gempa, relawan aktif dan unsur pegawai negeri sipil (PNS), SKPD, serta unsur TNI dan Polri.

"Banyaknya peristiwa bencana yang menimbulkan korban jiwa maupun kerugian harta benda, telah membuka mata kita bahwa mitigasi bencana masih sangat jauh dari yang diharapkan. Oleh karena itu mitigasi bencana perlu dipahami oleh semua kalangan," katanya kepada "GM", Minggu (27/11).

Dijelaskannya, pada dasarnya mitigasi bencana merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana, baik sebelum, saat maupun sesudah terjadi. Dikatakannya, tujuan mitigasi antara mencegah korban jiwa, mengurangi penderitaan manusia, memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko, serta mengurangi kerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber ekonomis.

Cecep menuturkan, untuk mencapai tujuan mitigasi ini, semua pihak harus mengenal dan beradaptasi terhadap bahaya bencana serta melakukan kegiatan berkelanjutan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko jangka panjang. (B.97)**
Share:

Puncak Musim Hujan Terjadi Januari 2012

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daerah Istimewa Yogyakarta, memperkirakan puncak musim hujan terjadi pada Januari 2012. Untuk itu, BMKG mengimbau masyarakat perlu mewaspadai ancaman banjir.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Daerah Istimewa Yogyakarta, Toni Agus Wijaya saat dihubungi di Yogyakarta, Senin (21/11), mengatakan, saat ini intensitas hujan rata-rata mencapai 20 milimeter per hari.

"Saat ini intensitas curah hujan masih sedang dan belum merata di seluruh wilayah DIY karena perbedaan suhu permukaan tanah," ungkapnya.

Menurut dia, intensitas hujan turun secara bertahap, yakni ringan, sedang, hingga banyak. "Januari intensitas hujan lebih banyak atau deras kemudian secara bertahap akan berkurang hingga April 2012," tambahnya.

Pola peralihan musim kemarau menjadi musim hujan kali ini berjalan normal. Sebab, tidak ada gangguan badai El Nino. Ia mengatakan pola peralihan musim dihitung BMKG dalam waktu 30 tahun terakhir.

Dia mengatakan pada musim hujan kali ini hanya terjadi gangguan cuaca jangka pendek dalam beberapa pekan ini. Gangguan cuaca jangka pendek ini biasa disebut dengan inter tropical convergen zone (ITCZ), yakni terjadi pertemuan angin tropis di beberapa daerah.

"Peningkatan uap air yang terjadi di beberapa daerah sebagai bagian dari gangguan cuaca jangka pendek itu terjadi sejak awal November," imbuhnya.

Selain ancaman banjir, masyarakat juga perlu mewaspadai terjadinya angin kencang yang sering terjadi mulai awal musim hujan. Angin kencang yang terjadi pada pekan ini terbagi dalam dua jenis angin, yakni angin kencang biasa dengan gerakan mendatar dan angin puting beliung dengan gerakan memutar atau membentuk pusaran.

Masyarakat juga perlu mewaspadai angin puting beliung. "Tanda-tanda terjadinya angin puting beliung adalah cuaca pagi hari panas. Penguapan panas secara lokal memicu terjadinya angin puting beliung yang ditandai dengan pembentukan awan cumulonimbus," pungkasnya.(Ant/****)

Share:

Pelaksanaan Sosialisasi dan Mitigasi Bencana Daerah Rawan Bencana di kabupaten Bandung.

BPBD Kabupaten Bandung bekerja sama dengan BPBD Prov Jabar dalam rangka PRB pengurangan resiko bencana melalui acara sosialisasi Mitigasi daerah rawan Bencana di kabupaten Bandung yang diselenggarakan selama 1 hari kerja penuh pada tanggal 22 Nopember 2011.
Kegiatan ini dilaksanakan atas dukungan dan kerjasama BPBD Prov Jawa Barat melaui Anggaran Tambahan 2011 APBD Prov Jabar. acara ini di ikuti oleh 100 orang peserta dari 16 Kecamatan yang memiliki kerawanan bencana dengan utusan para tokoh masyarakat, fasilitator gempa,relawan aktif dan unsur PNS disamping itu terlibat pula SKPD terkait Pemda Kabupaten Bandung dan unsur TNI POLRI.

Tujuan dari Sosialisasi Mitigasi Bencana inia adalah sebagai berikut :

Banyaknya peristiwa bencana yang terjadi dan menimbulkan korban jiwa serta kerugian harta benda di Indonesia, telah membuka mata kita bersama bahwa mitigasi bencana di negara kita masih sangat jauh dari yang kita harapkan. Kita yang hidup di wilayah rawan bencana alam harus selalu mendapatkan kerugian yang besar, dalam hal korban jiwa maupun harta benda, dalam setiap kejadian bencana. Pembangunan yang ada justru makin memperparah dampak bencana akibat tidak diperhatikannya kaidah-kaidah kebencanaan dalam pelaksanaan pembangunan.

Oleh karena itu pemahaman tentang mitigasi bencana perlu dipahami oleh semua kalangan. Pada dasarnya mitigasi bencana merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana. Ketika tiga tahapan ini dipenuhi maka tujuan mitigasi bencana yang meliputi (1) mencegah kehilangan jiwa; (2) mengurangi penderitaan manusia; (3) memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko, serta (4) mengurangi kerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber ekonomis, akan dapat dimaksimalkan.


Hal - hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai tujuan dari mitigasi bencana antara lain adalah pengenalan dan adaptasi terhadap bahaya alam dan buatan manusia, serta kegiatan berkelanjutan untuk mengurangi atau menghilangkan resiko jangka panjang, baik terhadap kehidupan manusia maupun harta benda. Menerapkan hasil penelitian dan transfer teknologi sangat penting untuk meningkatkan kualitas dari sistim peringatan dini terhadap bencana. Slain itu meningkatkan pengetahuan masyarakat (public awareness) tentang bencana melalui sosialisasi, pelatihan dan pembinaan serta meningkatkan kualitas kepemimpinan dan koordinasi adalah juga hal yang penting.

Lebih lanjut kami menyampaikan terima kasih atas segala perhatian dan kepeduliannya dari semua pihak terlebih lagi khususnya kepada Panitia Prov Jawa Barat.
Share:

Penanganan Banjir Cieunteung Bisa Tiru Bojong Citepus

SOREANG, (PRLM).- Penanganan banjir di Kp. Bojong Citepus, Desa Cangkuang Wetan, Kec. Dayeuhkolot, bisa dijadikan contoh dalam penanganan banjir di daerah-daerah langganan banjir Kab. Bandung. Dengan membuat kolam penampungan dan memasang dua mesin pompa ukuran besar membuat Kp. Bojong Citepus yang awalnya selalu terendam banjir kini genangan banjir hanya tinggal 10 cm ketika hujan besar turun.
“Ada tiga rumah pompa yang dibangun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum yakni di Kp. Bojong Citepus, Kp. Parunghalang Kelurahan Andir Baleendah, dan di Majalaya. Warga Kp. Bojong Citepus merasakan dampak positif dengan pembangunan kolam penampung dan rumah pompa,” kata Ketua RT 01 RW 09 Kp. Bojong Citepus, Wardi, saat ditemui di rumahnya, Kamis (10/11).
Lebih jauh Wardi mengatakan, sejak tahun 2006 lalu BBWS Citarum membangun kolam penampungan banjir dan saluran air mengelilingi Kp. Bojong Citepus. “Sedangkan rumah-rumah di pinggir Sungai Citarum dibebaskan karena dibangun tanggul setinggi enam meter. Kp. Bojong Citepus hampir sama dengan Kp. Cieuntueng karena lokasinya berada di bawah Sungai Citarum,” katanya.
Ketika air hujan turun sehingga air hujan tak bisa mengalir ke Sungai Citarum yang lokasinya lebih tinggi. “Air hujan masuk ke saluran air yang mengeliling kampung lalu berakhir di kolam penampungan. Nantinya air akan dibuang ke Sungai Citarum melalui dua mesin pompa air ukuran besar yang dijalankan bisa sampai 12 jam sampai air surut,” katanya. (A-71/das)***
Share:

Banjir Banjaran karena Kiriman

BANJARAN,(GM)-
Masyarakat di daerah Kamasan, Banjaran dan sekitarnya, berharap Sungai Cisangkuy yang melintasi daerah tersebut segera dikeruk pemerintah. Sebab bencana banjir bandang yang mereka alami, kerap terjadi jika di wilayah Pangalengan dan sekitarnya hujan deras.

Salah seorang warga Kamasan, Tetep Darmawan kepada "GM", Rabu (9/11) menuturkan, warga Kamasan sering diterjang banjir bandang akibat luapan Sungai Cisangkuy. Anak Sungai Citarum ini meluap jika di daerah hulu seperti daerah Pangalengan dan sekitarnya hujan turun dengan deras.

Karena banjir bandang ini dikhawatirkan terjadi kembali bahkan lebih besar, Tetep berharap pemerintah melakukan pengerukan. Apalagi kondisi sungai sekarang sudah dangkal dan banyak tumpukan sampah. "Pengerukan tersebut terutama dari jembatan Jalan Raya Banjaran-Soreang sampai daerah Waas, Kec. Pameungpeuk dengan panjang sekitar 3 sampai 4 km," katanya.

Hal yang sama dikatakan Encang (48), warga lainnya. Ia berharap pemerintah melakukan penanganan Sungai Cisangkuy karena sudah membuat masyarakat menderita akibat terjangan banjir bandang. Bahkan kini rumahnya terpaksa ditinggalkan karena tinggal di sana tidak lagi membuatnya tenang.

"Saya lebih memilih pindah saja ke desa tetangga karena khawatir sewaktu-waktu terjadi banjir bandang. Semalam saja rumah saja terendam air sepinggang dan sekarang dipenuhi lumpur," katanya.

Sementara Yayat (60) mengaku dirinya berharap rumah warga yang sering terendam banjir dibebaskan dari kewajiban membayar pajak bumi dan bangunan (PBB). Sebab rumah warga ini terbilang bukan lahan produktif. "Saya sudah mengajukan ke Pemkab Bandung tahun lalu agar rumah warga yang sering terkena banjir dibebaskan dari pembayaran PBB. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya," ujarnya.

Sementara pascabanjir semalam, sejumlah warga disibukkan dengan lumpur yang mengendap akibat terbawa air Cisangkuy semalam. Lumpur yang mengendap di gang-gang dan rumah warga ini membuat susah warga karena cukup tebal dengan ketebalan 20-30 cm.

"Sejak tadi malam air sudah mulai surut dan hingga pagi tadi tinggal sisa-sisa lumpur yang dibawa banjir. Sementara warga yang mengungsi juga sudah bisa pulang ke rumah sekitar pukul 24.00 WIB," ungkap Kades Kamasan, Herli Purnomo.

Berita sebelumnya, Sungai Cisangkuy yang melewati Kec. Banjaran, Kab. Bandung kembali meluap dan merendam rumah warga di Kamasan dengan ketinggian 1-2 meter, Selasa (8/11) malam. Rumah warga yang terendam banjir bandang ini sekitar 220 unit dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 300 KK atau 1.200 jiwa.

Kepala Desa Kamasan, Herli Purnomo mengatakan, hanya berselang satu minggu, desanya sudah dua kali diterjang banjir. "Seminggu lalu, Sungai Cisangkuy meluap dan luapannya merendam sebagian wilayah desa," katanya.

Banjir Bandang merendam rumah di 5 RW, yaitu RW 03, 04, 05, 06, dan RW 07. Warga untuk sementara diungsikan ke Masjid Persatuan di RW 06, Bale RW 06, dan sejumlah rumah yang tidak terendam. (B.97/B.35)**
Share:

Tak Jamin Selesaikan Banjir


BALEENDAH,(GM)-
Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengakui, pengerukan dalam program normalisasi Citarum tidak secara otomatis menjamin persoalan banjir di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum selesai. Menurutnya, target program tersebut terutama melancarkan aliran Citarum.

Hal itu diungkapkan Djoko kepada pers selepas pengerukan pertama yang dilakukannya di atas backhoe di sela-sela launching Rehabilitasi Prasarana Pengendali Banjir Sungai Citarum, Rabu (9/11) di DAS Citarum, Kp. Karees, Kel./Kec. Baleendah, Kab. Bandung.

Acara tersebut antara lain dihadiri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Bupati Bandung Dadang M. Naser, Bupati Kab. Bandung Barat (KBB) Abubakar, Wakil Wali Kota Cimahi Eddy Rachmat, Kapolres Bandung AKBP Sony Sonjaya, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) Ali Hasanudin, perwakilan Kodam III/Siliwangi, dan perwakilan beberapa kontraktor pelaksana normalisasi. "Program ini tidak bisa menjamin nantinya tidak ada banjir," ungkap Djoko kepada wartawan.

Menurutnya, target program yang disebutnya sebagai Rehabilitasi Prasarana Pengendali Banjir Sungai Citarum tersebut adalah melancarkan aliran Sunghai Citarum. Diharapkan lancarnya aliran sungai tersebut bisa mengatasi masalah banjir yang selama ini menjadi masalah masyarakat di sekitar DAS Citarum, khususnya di Kab. Bandung.

"Targetnya 'kan melancarkan aliran air, supaya mengalir sesuai jalur aliran Sungai Citarum," tandasnya.

Dalam sambutannya Djoko mengatakan, permasalahan Citarum sangat kompleks. Selain menyangkut pendangkalan dan sedimentasi, juga menyangkut pencemaran limbah, baik limbah rumah tangga maupun industri, selain terkait gundulnya hutan di sekitar DAS Citarum. Karena itu penanganan harus dilakukan secara terpadu dan komprehensif.

"Penanganan harus terpadu, mulai pendekatan struktural dan nonstruktural, pemberdayaan masyarakat dan pendekatan sosial budaya, terutama penyadaran perilaku buang sampah," ungkapnya.

Menurut Djoko, untuk melaksanakan program tersebut, pemerintah pusat harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Menurutnya, total biaya program normalisasi tersebut Rp 35 triliun dalam 15 kali anggaran atau 15 tahun, atau Rp 1,3 triliun untuk tiga kali anggaran, yaitu APBN 2011, 2012, dan 2013.

"Karena itu saya minta kepada BBWSC untuk melaksanakan program tersebut sebaik-baiknya," ujarnya.

Pengerukan akan dilakukan di Sungai Citarum sepanjang 180 km, mulai dari Citarum hulu, yaitu Sapan hingga Muara Gembong. Pengerjaannya terbagi dalam tiga ruas, yaitu ruas Citarum hulu yang meliputi Sapan Kab. Bandung hingga Nanjung (KBB) dengan panjang 45 km, ruas Bendungan Jatiluhur hingga Bendungan Curug sepanjang 9,5 km, dan ruas Walahar (Karawang) hingga Muara Gembong (Bekasi).

Limbah kotoran

Menurut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, Hasanudin, Setiap hari sekitar 400 ton limbah kotoran hewan ternak mencemari Sungai Citarum. Selain itu 250.000 kubik sampah rumah tangga ikut mencemari sungai ini.

"Karena itu wajar jika pada tahun 2007 sebuah lembaga riset independen internasional menetapkan Sungai Citarum sebagai sungai terkotor di dunia," katanya.

Selain itu, di sepanjang pinggir DAS Citarum, banyak terjadi alih fungsi lahan. Lahan kritis yang dilintasi DAS Citarum mencapai 46.000 hektare. Menurutnya, berbagai upaya yang telah dilakukan sama sekali belum bisa mengatasi banjir.

Dikatakan, limbah ternak berasal dari sentra peternakan hewan yang ada di Kab. Bandung dan Kab. Bandung Barat. Umumnya, lanjut Hasanudin, para peternak menjadikan Citarum sebagai tempat membuang sampah dan limbah.

Kondisi tersebut diperparah oleh penggundulan hutan di kawasan hulu. Di samping penurunan air muka tanah akibat penggunaan air tanah berlebih, sedimentasi, dan buangan sampah ke sungai. Sementar posisi geografis kawasan Bandung yang berada di daerah cekungan, menurutnya, menyebabkan daerah ini mempunyai potensi tergenang air yang cukup tinggi (banjir, red).

Karena itu pihaknya berharap, program pengerukan Sungai Citarum ini menjadi proses rehabilitasi upaya pengendalian banjir yang seringkali menimpa warga khususnya di Kab. Bandung. Antara lain meliputi Kec. Baleendah, Banjaran, Bojongsoang, Rancaekek, Solokan jeruk, Majalaya, dan Ciparay.

Strategi Kab. Bandung

Bupati Bandung Dadang M. Naser mengatakan, keberadaan Citarum sangat penting. Terlebih sungai terbesar di Jawa Barat ini melewati beberapa kabupaten atau kota, mulai dari Kab. Bandung, Kota Cimahi, KBB, Purwakarta hingga Kab. Bekasi.

"Untuk mengatasi hal ini, kami Pemkab Bandung akan melakukan beberapa strategi, di antaranya gerakan vegetatif (penanaman) kawasan hulu sungai hingga hilir. Penyadaran atau rekayasa sosial agar masyarakat mencintai Citarum dan melakukan penyodetan atau pengerukan," ujarnya.

Menurutnya, ditetapkannya Citarum sebagai sungai terkotor di dunia harus menjadi motivasi bagi semua komponen masyarakat agar terlibat dalam memperbaiki Citarum. Dikatakan, sewaktu kecil dirinya masih bisa menikmati berenang di Citarum dan memancing ikan.

"Tapi sekarang ikan yang ada di Citarum hanya ikan sapu-sapu saja. Butuh komitmen semua pihak, tidak sendiri-sendiri membenahinya," ujar politisi Partai Golkar ini.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, kompleksnya permasalahan Citarum membuat normalisasinya membutuhkan penanganan yang komprehensif dan lintas departemen. Tidak hanya melibatkan Kementerian PU, melainkan juga Departemen Pertanian dalam kaitan dengan peternakan, Departemen Perindustrian terkait penataan industri, dan Departemen Kehutanan dalam kaitan dengan penghijauan hutan di DAS Citarum.

"Selain itu, terkait dengan limbah industri misalnya, dibutuhkan kebijakan dari Departemen Perindustrian untuk mengupayakan agar pembuatan IPAL (instalasi pengolahan air limbah) oleh industri dilakukan sebaik mungkin. Jangan ada lagi alasan mahal," papar Ahmad.

Insiden backhoe

Acara launching normalisasi Citarum diwarnai insiden kecil, yaitu tenggelamnya backhoe ke Sungai Citarum. Backhoe tersebut sedang meratakan lokasi yang dipakai acara launching di pinggiran Citarum. Sekitar 30 menit sebelum Menteri PU datang, backhoe yang terparkir di pinggir Citarum tersebut tiba-tiba hanyut dan sebagian bodinya terendam sungai yang permukaaannya sedang naik.

Kurang lebih 30 menit, berbarengan dengan tibanya Menteri PU Djoko Kirmanto, tiba-tiba backhoe tersebut hanyut terbawa arus sejauh sekitar 15 meter dari tempat "jatuh"-nya semula. Menteri sendiri sempat menyaksikan pemandangan "lucu" tersebut. Insiden tersebut juga menjadi perhatian para undangan dan pengunjung yang menganggapnya sebagai hiburan segar. Meskipun bagi panitia justru sebaliknya. Mereka sibuk menarik kembali backhoe ke pinggir sungai.

Selain itu, dalam acara tersebut juga ada aksi empat perahu kecil yang masing-masing diawaki dua anggota komunitas Barudak Baraya Cisangkuy Citarum (B2C2). Masing-masing perahu membawa spanduk bertuliskan pesan lingkungan, seperti "Ada apa dengan Citarum?", "Pulihkan Citarum", dan "Salametkeun Citarum keur anak incu urang".

"Dengan aksi ini kita mendukung program pengerukan Citarum. Tapi kita juga berharap semua ini tidak hanya seremonial tanpa penanganan menyeluruh yang mengatasi permasalahan seperti banjir," papar koordinator aksi, Reki. (B.35)**
Share:

Maps

Pengikut