25 Menteri akan Hadiri Konferensi Kebencanaan di Yogyakarta

JAKARTA, KOMPAS.com - Pada 22-25 Oktober 2012 mendatang akan digelar Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction (AMCDRR) Ke-V di Yogyakarta.

Perhelatan dua tahunan ini dipastikan akan dihadiri 25 menteri atau kepala instansi setingkat menteri yang bertanggung jawab atas bencana di negara masing-masing.
"AMCDRR Ke-V ini rencananya tanggal 23 Oktober akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai peraih Penghargaan "Global Champion for Disaster Risk Reduction" yang diumumkan di Jenewa oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon, tahun lalu," kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Rabu (19/9/2012) di Jakarta.
Ia mengatakan, dalam forum ini Indonesia akan menunjukkan kekuatan kapasitas lokalnya, khususnya masyarakat Yogyakarta dalam menghadapi bencana alam, baik letusan Gunung Merapi maupun Gempa 2006.
Selain itu, kemandirian masyarakat Wonolelo Bantul yang membangun waduk kecil secara gotong-royong. Ini membuat daerah itu tak lagi dilanda kekeringan saat kemarau atau banjir saat hujan. "Sekarang daerah itu selalu ijo royo-royo," kata Sutopo.
Lebih lanjut, acara itu akan dihadiri sekitar 1.000 peserta dari Asia (32 negara), Timur Tengah (14 negara), dan Pasifik (16 negara).
Dalam forum itu juga diisi dengan berbagai side event, baik di Jogja International Expo maupun Hotel Ambarukmo. Selain itu, berbagai pameran teknologi kebencanaan dari PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, serta berbagai pameran lain.
AMCDRR dimulai di Beijing - China (2005), New Delhi - India (2007), Kuala Lumpur - Malaysia (2008), dan Incheon - South Korea (2010). (ICH)
Share:

Puluhan Warga Ciheulang Masih Membereskan Rumah


SOREANG, (PRLM).- Puluhan warga masih membereskan sisa-sisa hancurnya rumah mereka di Desa Ciheulang Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, yang Senin (15/10) kemarin terkena puting beliung.
"Yah kita sedang membereskan saja, karena angin kemarin merusak hampir semua rumah warga," kata Ade (20) warga sekitar di lokasi kejadian, Selasa (16/10).
Dari pemantauan "PRLM", hampir semua rumah di daerah tersebut memang mengalami kerusakan, namun ada yang parah dan lainnya rusak ringan.
“Datangnya angin puting beliung secara tiba-tiba. Angin mulanya datang dari dekat pabrik yang berada di wilayah Desa Serang Mekar. Kemudian angin maju ke arah pemukiman warga padat penduduk dengan berputar-putar selama 5 menit," kata Yandri (30) warga Desa Ciheulang Kecamatan Ciparay, Selasa (16/11).
Yandri mengatakan, dengan kejadian tersebut tidak hanya rumah warga yang hancur, namun angin puting beliung itu juga menghancurkan lahan perkebunan milik warga. Ini adalah musibah yang kesekian diderita oleh warga Ciheulang.
Hal senada disampaikan Apri (68). Menurut dia, musibah yang sama pernah terjadi pada tahun 1979. Namun pada saat itu, angin puting beliungnya menewaskan beberapa warga. "Kejadian yang sama terulang kembali saat ini, akan tetapi syukur Alhamdulillah tidak ada korban yang meninggal dunia akibat angin puting beliung ini," kata Apri.
Apri memaparkan bahwa kejadian tersebut, terjadi sangat cepat. "Ketika angin berputar-putar, saya spontan merangkul tiga cucu saya yang masih kecil. Untuk melindungi ketiga cucu saya itu dari bahaya," katanya.
Apri mengalami luka ringan yakni luka goresan di kaki akibat seng yang berterbangan dan tertimpa genteng rumah.
Sementara itu rumah milik warga lainnya yang mengalami kerusakan berat adalah rumah milik Oom Komariah (60).
Oom mengaku masih tidak percaya atas apa yang telah terjadi pada rumah miliknya. Hal ini disebabkan pada saat kejadian, ia sedang didalam rumah. Ketika angin berputar disekitar rumahnya, ia langsung keluar menyelamatkan diri dan meninggalkan rumah.
"Saat ini rumah saya hancur dan hanya tersisa barang-barang yang juga rusak karena kejadian itu, atap genting rumah saya berterbangan dan seng-seng juga ikut berterbangan, kondisi rumah saya rusak berat," kata Oom.
Ia berharap pemerintah Kabupaten Bandung untuk secepatnya memberikan bantuan terhadap warga yang mengalami korban angin puting beliung.
Sementara itu saat dimintai keterangan, Kepala Desa Ciheulang Iyam Maryam mengatakan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun jumlah rumah rusak mencapai 168 buah. Dalam kejadian tersebut, sedikitnya 3 rumah milik warga kondisnya rusak berat, sedangkan dua lainnya mengalami kerusakan kategori sedang dan ratusan lainnya mengalami kerusakan ringan.
"Ketiga rumah yang mengalami kerusakan kategori berat adalah rumah milik Misbah (55), Alo (40) dan Iam (50). Ketiganya merupakan warga kampung Babakan Cipasung RT 05 RW 06 Desa Ciheulang Kecamatan Ciparay," ujarnya.
Iyam memaparkan bahwa hingga saat ini pihak pemerintah Desa dengan Muspika masih tetap siaga satu. Hal ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pencurian harta benda misalnya. "Petugas siskamling siaga penuh di lokasi kejadian selama 24 jam, saya khawatir ada warga yang kemalingan karena kondisi di sini sedang karut marut," ujarnya. (A-211/A-147)***
Share:

Puluhan Warga Ciheulang Masih Membereskan Rumah


SOREANG, (PRLM).- Puluhan warga masih membereskan sisa-sisa hancurnya rumah mereka di Desa Ciheulang Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, yang Senin (15/10) kemarin terkena puting beliung.
"Yah kita sedang membereskan saja, karena angin kemarin merusak hampir semua rumah warga," kata Ade (20) warga sekitar di lokasi kejadian, Selasa (16/10).
Dari pemantauan "PRLM", hampir semua rumah di daerah tersebut memang mengalami kerusakan, namun ada yang parah dan lainnya rusak ringan.
“Datangnya angin puting beliung secara tiba-tiba. Angin mulanya datang dari dekat pabrik yang berada di wilayah Desa Serang Mekar. Kemudian angin maju ke arah pemukiman warga padat penduduk dengan berputar-putar selama 5 menit," kata Yandri (30) warga Desa Ciheulang Kecamatan Ciparay, Selasa (16/11).
Yandri mengatakan, dengan kejadian tersebut tidak hanya rumah warga yang hancur, namun angin puting beliung itu juga menghancurkan lahan perkebunan milik warga. Ini adalah musibah yang kesekian diderita oleh warga Ciheulang.
Hal senada disampaikan Apri (68). Menurut dia, musibah yang sama pernah terjadi pada tahun 1979. Namun pada saat itu, angin puting beliungnya menewaskan beberapa warga. "Kejadian yang sama terulang kembali saat ini, akan tetapi syukur Alhamdulillah tidak ada korban yang meninggal dunia akibat angin puting beliung ini," kata Apri.
Apri memaparkan bahwa kejadian tersebut, terjadi sangat cepat. "Ketika angin berputar-putar, saya spontan merangkul tiga cucu saya yang masih kecil. Untuk melindungi ketiga cucu saya itu dari bahaya," katanya.
Apri mengalami luka ringan yakni luka goresan di kaki akibat seng yang berterbangan dan tertimpa genteng rumah.
Sementara itu rumah milik warga lainnya yang mengalami kerusakan berat adalah rumah milik Oom Komariah (60).
Oom mengaku masih tidak percaya atas apa yang telah terjadi pada rumah miliknya. Hal ini disebabkan pada saat kejadian, ia sedang didalam rumah. Ketika angin berputar disekitar rumahnya, ia langsung keluar menyelamatkan diri dan meninggalkan rumah.
"Saat ini rumah saya hancur dan hanya tersisa barang-barang yang juga rusak karena kejadian itu, atap genting rumah saya berterbangan dan seng-seng juga ikut berterbangan, kondisi rumah saya rusak berat," kata Oom.
Ia berharap pemerintah Kabupaten Bandung untuk secepatnya memberikan bantuan terhadap warga yang mengalami korban angin puting beliung.
Sementara itu saat dimintai keterangan, Kepala Desa Ciheulang Iyam Maryam mengatakan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun jumlah rumah rusak mencapai 168 buah. Dalam kejadian tersebut, sedikitnya 3 rumah milik warga kondisnya rusak berat, sedangkan dua lainnya mengalami kerusakan kategori sedang dan ratusan lainnya mengalami kerusakan ringan.
"Ketiga rumah yang mengalami kerusakan kategori berat adalah rumah milik Misbah (55), Alo (40) dan Iam (50). Ketiganya merupakan warga kampung Babakan Cipasung RT 05 RW 06 Desa Ciheulang Kecamatan Ciparay," ujarnya.
Iyam memaparkan bahwa hingga saat ini pihak pemerintah Desa dengan Muspika masih tetap siaga satu. Hal ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pencurian harta benda misalnya. "Petugas siskamling siaga penuh di lokasi kejadian selama 24 jam, saya khawatir ada warga yang kemalingan karena kondisi di sini sedang karut marut," ujarnya. (A-211/A-147)***
Share:

166 Rumah dan Perkebunan di Desa Ciheulang Rusak


SOREANG, (PRLM).- 168 rumah di Desa Ciheulang Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung rusak diacak-acak oleh angin puting beliung. Kejadian ini terjadi pada Senin (15/10) sekitar pukul 15:30, meski tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini namun kerugian yang diderita mencapai milyaran rupiah.
“Datangnya angin puting beliung secara tiba-tiba, angin mulanya datang dari dekat pabrik yang berada di wilayah Desa Serang Mekar. Kemudian angin maju ke arah pemukiman warga padat penduduk dengan berputar-putar selama 5 menit," kata Yandri (30) warga Desa Ciheulang Kecamatan Ciparay, Selasa (15/11) dini hari.
Yandri mengatakan dengan kejadian tersebut tidak hanya rumah warga yang hancur, namun angin puting beliung itu juga menghancurkan lahan perkebunan milik warga, "Ini adalah musibah terparah yang pernah diderita oleh warga Ciheulang," katanya.
Hal senada disampaikan Apri (68), menurutnya musibah yang sama pernah terjadi pada tahun 1979. Namun pada saat itu, angin puting beliungnya menewaskan beberapa warga. "Kejadian yang sama terulang kembali saat ini, akan tetapi syukur Alhamdulillah tidak ada korban yang meninggal dunia akibat angin puting beliung ini," kata Apri.
Apri memaparkan bahwa kejadian tersebut, terjadi sangat cepat, "Ketika angin berputar-putar, saya spontan merangkul tiga cucu saya yang masih kecil. Untuk melindungi ketiga cucu saya itu dari bahaya," katanya.
Apri mengalami luka ringan yakni luka goresan di kaki akibat seng yang berterbangan dan tertimpa genteng rumah. Sementara itu rumah milik warga lainnya yang mengalami kerusakan berat adalah rumah milik Oom Komariah (60).
Oom mengaku masih tidak percaya atas apa yang telah terjadi pada rumah miliknya. Hal ini disebabkan pada saat kejadian, ia sedang didalam rumah. Ketika angin berputar disekitar rumahnya, ia langsung keluar menyelamatkan diri dan meninggalkan rumah.
"Saat ini rumah saya hancur dan hanya tersisa barang-barang yang juga rusak karena kejadian itu, atap genting rumah saya berterbangan dan seng-seng juga ikut berterbangan, kondisi rumah saya rusak berat," kata Oom.
Ia berharap pemerintah Kabupaten Bandung untuk secepatnya memberikan bantuan terhadap warga yang mengalami korban angin puting beliung.
Sementara itu saat dimintai keterangan, Kepala Desa Ciheulang Iyam Maryam, mengatakan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, "Namun jumlah rumah rusak mencapai 168 buah," katanya.
Dalam kejadian tersebut kata Iyam, sedikitnya 3 rumah milik warga kondisnya rusak berat, sedangkan dua lainnya mengalami kerusakan kategori sedang dan ratusan lainnya mengalami kerusakan ringan. "Ketiga rumah yang mengalami kerusakan kategori berat adalah rumah milik Misbah (55), Alo (40) dan Iam (50). Ketiganya merupakan warga kampung Babakan Cipasung RT 05 RW 06 Desa Ciheulang Kecamatan Ciparay," ujarnya.
Iyam memaparkan bahwa hingga saat ini pihak pemerintah Desa dengan Muspika masih tetap siaga satu. Hal ini disebabkan Guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pencurian harta benda misalnya. "Petugas Siskamling siaga penuh di lokasi kejadian selama 24 jam, saya khawatir ada warga yang kemalingan karena kondisi disini sedang carut marut," ujarnya.
Dengan kejadian tersebut, Iyam meminta kepada seluruh warga masyarakat untuk tenang, sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan ini.
Pihaknya juga telah melakukan pendataan rumah-rumah rusak tersebut dan secepatnya datanya akan disampaikan kepada pihak pemerintah Kabupaten Bandung sebagai dasar pengajuan bantuan.
Dari pantauan wartawan, warga hingga dini hari ini masih membersihkan pecahan-pecahan genting, pecahan seng, dan barang-barang yang hancur berterbangan di lokasi kejadian. Yang aneh, kata salah seorang warga, adalah Masjid Al Ikhlas yang berada dí lokasi kejadian tÍdak mengalamÍ kerusakan, tetapi bedug yang ada didalamnya terbang terbawa angin. (A-211/A-147)***
Share:

Waspadai Puting Beliung di Kabupaten Bandung


SOREANG, (PRLM).- Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Marlan meminta, warga untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap bencana angin kencang atau angin puting beliung. Hal ini lantaran angin kencang diperkirakan akan terus terjadi beberapa pekan hingga bulan ke depan.
"Perubahan iklim sudah mulai terlihat. Seperti sebelumnya, musim kemarau terjadi cukup lama. Dan saat ini, musim penghujan sudah mulai terlihat. Memasuki musim penghujan ini, warga Kabupaten Bandung diminta harus selalu waspada," ujar Marlan, Kamis (13/9/12).
Menurut Marlan, musim penghujan kali ini sepertinya akan terjadi cukup panjang. "Meski demikian, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya kita harus selalu tetap waspada. Kewaspadaan terhadap cuaca angin kencang seperti saat ini," katanya.
Lebih jauh, Marlan menjelaskan, dari 31 Kecamatan di Kabupaten Bandung, ada delapan Kecamatan yang rawan akan adanya puting beliung yakni, Bojongsoang, Baleendah, Banjaran, Arjasari, Katapang, Rancaekek, Ciparay, Cicalengka.
"Angin kencang besar kemungkinan terjadi sebelum hujan turun. Adapun di antara ciri terjadinya angin puting beliung adalah suhu udara awal yang terasa panas dan awan pun cenderung sumuk, berubah menjadi abu-abu dan menjadi hitam pekat," ujarnya. (CA-08/A-88)***
Share:

BPBD Kirim Bantuan untuk Korban Puting Beliung


SOREANG, (PRLM).- Badan Penanggulangam Bencana Daerah (BPBD) Kab. Bandung sudah mengirimkan bantuan untuk korban angin puting beliung di tiga desa yakni Desa Warjabakti. Kec. Cimaung, Desa Ciheulang Kec. Ciparay dan Desa Wargabakti Kec. Baleendah. Bantuan berupa selimut, alas tidur, terpal, dan kebutuhan peralatan keluarga (family kit).
"Masing-masing desa terdapat satu keluarga yang mengungsi ke rumah tetangga. Keluarga yang diberikan bantuan adalah yang mengungsi karena rumahnya rusak berat," kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kab. Bandung, Cecep Hendrawan, Selasa (16/10).
Bantuan yang diberikan BPBD bukan dalam bentuk natura seperti beras melainkan alat-alat keluarga.
Dari laporan terakhir jumlah rumah yang rusak berat di Desa Ciheulang sebanyak tiga rumah, rusak sedang delapan rumah dan sekolah tiga buah, dan rusak ringan 149 rumah dan sebuah masjid. "Rusak ringan seperti beberapa genting beterbangan yang kini sudah diperbaiki masyarakat," katanya.

Sedangkan di Desa Warjabakti sebanyak satu rumah rusak berat yakni ambruk. "Untuk Desa Wargamekar rumah yang rusak berat dua rumah, dua rusak sedang, dan 35 rusak ringan. Satu korban luka ringan terlena genting yang jatuh yakni Emak Jumsih (85)," katanya.
Untuk rehabilitasi rumah akan diajukan dari kecamatan setempat kepada Pemkab Bandung. "Alokasi bantuan rehabilitasi dari anggaran program," katanya.(A-71/A-147)***

Share:

Maps

Pengikut