Banjir Genangi Jalur Palasari - Bale Endah Bandung

TEMPO InteraktifBandung - Banjir memutus jalur lalu lintas Palasari - Bale Endah Jalan Raya Dayeuh Kolot sepanjang sekitar 400 meter mulai mulai depan pabrik tekstil PT Marga Sandang hingga PT Metro Garmin, Kabupaten Bandung, Rabu (8/12) pagi. Banjir ini akibat melubernya air selokan yang bermuara ke Sungai Citarum, yang juga meluap di kawasan Cieunteung, Bale Endah, menyusul hujan sepanjang sore hingga malam kemarin.

"Banjir sejak Selasa malam. Apalagi sejak kemarin sore sampai malam hujan terus-terusan turun di sini," kata Agus, 36 tahun,  penarik becak yang tengah mangkal di dekat PT Marga, Rabu (8/12).


Menurut Agus, banjir memang biasa merendam kawasan tersebut bila musim hujan dan Sungai Citarum meluap. "Banjirnya sekarang tinggal setinggi mata kaki sampai lutut orang dewasa. Kemarin-kemarin banjirnya lebih dalam dan panjang," imbuh warga Lamajang, Dayeuh Kolot itu.


Kepolisian Sektor Dayeuh Kolot sempat menutup penggalan jalan tersebut mulai sekitar pukul 00.00 hingga 09.00 pagi tadi. "Karena dinihari tadi ketinggian air di jalan sampai setinggi perut orang dewasa. Setelah lebih surut sekitar jam 09.00 tadi jalan kami buka lagi," kata Kepala Polsek Dayeuh Kolot Komisaris Edi Heryanto di lokasi kejadian.


Edi menargetkan jalan raya kering kembali sekitar tengah hari nanti. "Kami sudah memasang pengisap air yang bekerja otomatis kalau terjadi banjir. Tapi dari pengalaman sebelumnya, air biasanya benar-benar surut dari jalan menjelang tengah hari nanti," imbuhnya.

Pantauan Tempo di lokasi mulai sekitar pukul 08.30 pagi, di tengah jalan raya di dekat perempatan Jalan Raya Dayeuhkolot dengan Jalan Cisirung Kepolisian Sektor Dayeuh Kolot memasang peringatan tentang adanya banjir untuk kendaraan dari arah Kota Bandung.


Peringatan yang ditulis di atas karton dan ditaruh di meja itu sekitar 300 meter dari PT Marga. Bunyinya "Banjir", "Arah Bale Endah Banjir." Sejumlah polisi berjaga di sekitarnya. Namun begitu sejumlah kendaraan dari arah Kota Bandung, terutama sepeda motor, tetap nekat membelah banjir. Sebagian kendaraan tersebut tampak mogok di tengah banjir.


Meski dianggap musibah oleh sebagian orang, banjir musiman ini ternyata berkah bagi orang lainnya. Bagi penarik becak seperti Agus, banjir ini juga potensi rezeki nomplok.
Agus dan kawan-kawan siap membelah banjir untuk mengantar penumpang ke tempat tujuan. Belasan dari mereka tampak mengantri menunggu penumpang antara lain di dekat PT Marga. "Kami pasang tarif Rp 5000 sampai Rp 10.000 tergantung jumlah penumpang yang naik," ujarnya.

Erick P. Hardi

0 komentar:

Posting Komentar