Murid SD Perlu Diberi Pelajaran Kebencanaan

SOREANG, (PR).-
Budaya hidup akrab dengan bencana seyogianya ditanamkan sejak dini lewat pemberian pelajaran muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah di wilayah rawan bencana di Kab. Bandung. Sekolah jangan mengasingkan murid-muridnya dari realitas lingkungan di sekitarnya.

"Muatan lokal mesti dirumuskan sesuai dengan kondisi lingkungan masyarakat di sekitar sekolah. Tidak usah mengawang-awang, bicara teoretis. Kalau tinggal di sekitar Sungai Citarum dan tiap saat menghadapi banjir, ya itu yang dijadikan bahan pembelajaran," ucap anggota Komisi C DPRD sekaligus mantan Ketua Panitia Khusus Banjir Gun Gun Gunawan, Kamis (16/12).

Dengan memberikan kurikulum kebencanaan, anak-anak yang tinggal di kawasan rawan bencana sejak dini dikenalkan dengan model-model hidup yang akrab dengan bencana. Diharapkan, ketika tumbuh besar, mereka dapat mengambil sikap lebih matang.

Selain itu, Gun Gun juga mendorong pemerintah memberikan teladan penanganan bencana secara tepat, terutama dalam hal penganggaran. Dengan dukungan penganggaran yang baik, banyak upaya pencegahan dan penanganan bencana bisa dilakukan.

Sederhana

Kepala SDN Mekarsari Baleendah Yuni Purnama menyambut baik kurikulum kebencanaan. Selama ini, karena belum ada mulok kebencanaan, pemberian materi kebencanaan diselipkan di antara pelajaran yang sudah ada, terutama ilmu pengetahuan alam. "Kami selalu mengingatkan murid untuk membungkus buku dan rapor dengan plastik dan disimpan di tempat yang tinggi. Jika banjir sewaktu-waktu datang, barang-barang tersebut akan terselamatkan," tuturnya.

Di SDN Mekarsari, dari 377 murid yang ada, lebih dari 90 persennya warga RW 20 Kampung Cieunteung yang menjadi langganan banjir. Namun, karena banjir, memaksa orang tua mereka terus-menerus mengungsi. Sekitar tiga puluh murid tidak bisa bersekolah setiap hari. (A-165)***

Sumber : pikiran rakyat online

0 komentar:

Posting Komentar