Kampung Cibisoro, Tempat Peristirahatan Terakhir Calung Darso


REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG – Almarhum Maestro Calung Sunda, Hendarso (66 tahun) yang akrab dipanggil Darso, dimakamkan pada Selasa (13/9) sekitar pukul 09.50 WIB di Kampung Cibisoro, Desa Gandasoli, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung. Pemakaman seniman Pop Sunda ini dihadiri ratusan pelayat baik dari keluarga, sahabat, dan para seniman Sunda. 

Sebelum dimakamkan, jenazah almarhum disemayamkan di Masjid Sayid Madani Oamar Ahmad Oghbi yang berjarak sekitar 100 meter dari rumah duka. Ratusan pelayat bergantian menyalatkan almarhum yang selalu tampil eksentrik ketika manggung. 

Usai dishalatkan, jenazah almarhum dibawa ke pemakaman keluarga yang jaraknya hanya ratusan meter dari rumah duka. Tepat pukul 09.50 WIB, jenazah almarhum pun dimakamkan. Isak tangis keluarga pun pecah ketika jasad sang seniman nyentrik ini dimasukan ke liang lahat. 

Kedua istri almarhum, Epong Anisa dan Lina serta keenam anaknya larut dalam tangis kesedihan. Empat anak dari almarhum istri pertamanya, yaitu Asep Darso, Yanti, Mimin, dan Ujang Darso. Sementara dari istri keduanya, yaitu Ira dan Reyhan. 

Terik matahari tak menyurutkan ratusan pelayat mengikuti prosesi pemakaman almarhum. Mereka rela berdesakan dalam sengatan sinar matahari. Sebagian pelayat yang tak bisa menyaksikan pemakaman dari jarak dekat karena berjubel terpaksa melihat dari jarak jauh. 

"Saya mewakili seniman sangat kehilangan Kang Darso. Ia legenda dan master musik Pop Sunda," kata Esa Poetra yang mewakili seniman saat memberikan sambutan usai pemakaman. 

Menurut penilaian Esa, meksi berkarier di jalur Pop Sunda, Darso sudah sepantasnya disejajarkan dengan tokoh musik Indonesia. Segudang karya musik milik Darso begitu akrab di telinga semua kalangan. Bahkan penggemarnya tersebar di luar negeri. "Kang Darso ini legenda musik Indonesia. Dia begitu fenomenal," tutur dia. 

Kepala Desa Gandasoli, Syarif, yang mewakili warga setempat menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Darso. Bagi warga sekitar, kata dia, sosok almarhum sangat ramah dan mudah bergaul dengan semua unsur lapisan masyarakat. "Almarhum adalah figur yang merakyat dan familiar. Ia santun terhadap semua orang dan kami merasa kehilangan," kata dia. 

Legenda Pop Sunda, Hendarso yang akbrab dipanggil Darso (66 tahun), meninggal dunia pada Senin (12/9) kemarin sekitar pukul 15.00 WIB di RSUD Soreang, Kabupaten Bandung. Pada Senin siang, Doel Sumbang, sahabat almarhum, Darso sempat berkumpul dengan keluarganya di rumah. 

Bahkan, imbuh dia, almarhum sempat makan siang dan tiduran. "Tiba-tiba almarhum mengeluh sakit di bagian dada,"kata dia. Pihak keluarga, lanjut Doel, membawa almarhum ke RSUD Soreang sekitar pukul 14.30 WIB. Namun sesampainya di rumah sakit nyawa almarhum sudah tidak ada. 

Menurut Humas RSUD Soreang, Mahendrawan, sebelumnya kondisi almarhum sehat-sehat saja. "Menurut pihak keluarga, almarhum baru makan siang dan langsung tiduran sebelum dilarikan ke rumah sakit," ujar dia. 

Meninggalnya seniman Sunda eksentrik ini banyak meninggalkan duka di kalangan penggemarnya. Nugraha (34), warga Jl Purwakarta, Antapani, mengaku terkejut mendengar kabar tersebut. Ia mengaku tak percaya atas kabar meninggalnya Darso. "Saya sempat menelpon beberapa teman sesame penggemar Kang Darso. Dan mereka membenarkannya," tutur dia. 
Redaktur: Djibril Muhammad
Reporter: Djoko Suceno

0 komentar:

Posting Komentar