Atasi Irigasi Leuwi Deukeut SDAPE Turun ke Lapangan

SOREANG,(GM)-
Dinas Sumber Daya Alam, Pertambangan, dan Energi (SDAPE) Kab. Bandung turun ke lapangan untuk mengecek saluran Irigasi Leuwi Deukeut di Desa Kopo, Kec. Kutawaringin, Kab. Bandung yang jebol karena tergerus Sungai Ciwidey, Selasa (29/3). Selain mengecek, Dinas SDAPE juga tengah mencari solusi penanggulangannya, karena tahun ini tidak ada anggaran perbaikan untuk saluran irigasi tersebut.

Kepala Dinas SDAPE Kab. Bandung, Ir Sopyan Sulaeman kepada "GM", Selasa (29/3), menuturkan, untuk mengecek kerusakan saluran Irigasi Leuwi Deukeut, sejumlah petugas sudah turun ke lokasi. "Untuk perbaikan saluran irigasi, tahun ini kami tidak punya anggarannya. Makanya kita akan cari solusi untuk perbaikan," ujarnya.

Menurut Sopyan, pihaknya akan mencoba membicarakannya dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Bandung. Bahkan kalau bisa, untuk perbaikan meminta peran aktif masyarakat dengan cara patungan dan gotong royong.

Menurut Sopyan, pihaknya bukan tidak mau membeli pipa paralon atau lainnya untuk alternatif irigasi tersebut. Namun untuk pembelian paralon juga tidak memiliki anggaran. "Kita tidak bisa menggunakan anggaran seenaknya, sebab anggaran tahun ini sudah ada peruntukannya," jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, saluran Irigasi Leuwi Deukeut di Desa Kopo, Kec. Kutawaringin, Kab. Bandung yang hancur karena tanahnya longsor, Sabtu (19/3), mengancam suplai air ke lahan persawahan milik warga.

Jika saluran irigasi ini tidak segera diperbaiki, sekitar 25 ha sawah di Blok Sawah Tegal Deukeut dan Manium terancam kekeringan.

Saluran Irigasi Leuwi Deukeut yang berada di pinggir Sungai Ciwidey, terputus karena tanah yang menopang saluran tersebut habis tergerus air sungai. Saluran irigasi akhirnya patah dan hancur terbawa tanah yang longsor.

Kades Kopo, Nanang Witarsa mengatakan, longsor di saluran Irigasi Leuwi Deukeut sudah diprediksi sejak 2008. Pemerintah Desa Kopo sudah melayangkan surat ke Dinas SDAPE Kab. Bandung. "Saat itu sudah ada keretakan pada saluran irigasi akibat tanahnya tergerus Sungai Ciwidey," katanya.

Tahun 2010, karena kondisi saluran irigasi makin parah, surat kedua kembali dilayangkan ke Dinas SDAPE Kab. Bandung. "Tapi seperti tahun 2008, surat yang kita kirim tidak ada tindak lanjutnya. Padahal tiap musrembang, kita selalu mengajukan masalah saluran irigasi ini," katanya.

Terputusnya saluran irigasi tersebut mengancam ketersediaan air untuk 25 ha sawah milik sekitar 150 petani yang sekarang mengandalkan air hujan. "Kalau tidak ada hujan, sudah pasti petani gagal panen karena kekeringan," jelasnya. (B.97)**

0 komentar:

Posting Komentar