Disiapkan, Tiga Strategi Penanganan Banjir

SOREANG, (PR).-
Bencana banjir, longsor, puting beliung, kekeringan, dan gempa bumi merupakan permasalahan aktual yang dihadapi Kab. Bandung pada tahun-tahun mendatang. Untuk penanganan banjir, Pemkab Bandung menyusun strategi besar tiga periode yakni periode I (2011-2015), periode II (2016-2020), dan periode III (2021-2025).
"Strategi besar meliputi penanganan banjir di sekitar Sungai Citarum, wilayah Rancaekek, Baleendah-Dayeuhkolot, Majalaya, dan Banjaran," kata Kasi Informasi Humas Kab. Bandung, Drs. Asep Syahdiana, Kamis (6/1).
Penanganan banjir pada periode I, berupa rekayasa teknis Curug Jompong, pembangunan Waduk Tegalluar, pembangunan polder, normalisasi sungai. "Sementara secara nonstruktur, berupa pemberdayaan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), reboisasi dan rehabilitasi lahan, serta penertiban terhadap pencemar lingkungan," ujarnya.
Pada periode II, dilakukan penertiban permukiman penduduk di sekitar Sungai Citarum. "Konservasi alam di daerah tangkapan air Bandung Utara dan alih fungsi lahan juga menjadi perhatian dalam periode ini," katanya.
Sementara periode III, penanganan banjir secara nonstruktural sebagian besar dilakukan melalui reboisasi dan rehabilitasi lahan. "Pemerintah juga berupaya mengalihkan mata pencaharian petani dari tanaman berumur pendek ke bidang usaha peternakan unggas, kambing, sapi, dan perikanan," ujarnya.
Anggaran banjir
Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air Pertambangan dan Energi (SDAPE) Kab. Bandung, Ratna Mikial mengatakan, tahun ini Pemkab Bandung mengusulkan anggaran pengendalian banjir Rp 4,5 miliar. "Dalam RAPBD 2011 juga diusulkan anggaran pemeliharaan jaringan irigasi Rp 8,4 miliar, rehabilitasi bantaran dan tanggul sungai Rp 3,8 miliar, normalisasi sungai Rp 300 juta, dan pembersihan sungai Rp 418 juta," katanya dalam rapat kerja di Komisi C DPRD Kab. Bandung, Rabu (5/1).
Untuk normalisasi sungai dikonsentrasikan di Kec. Rancaekek, Cileunyi, dan Banjaran, sedangkan pembersihan sungai di Sungai Cimariuk, Cikungkurak, dan Citarik. "Kami juga mengusulkan pembuatan reservoar air sebesar Rp 850 juta di Pasirjambu dan Cimaung," katanya. (A-71)***
Penulis:

0 komentar:

Posting Komentar